3 Waktu Mandi yang Disunnahkan

3 waktu mandi yang disunnahkan

Sebelumnya kita telah membahas enam waktu mandi dari 17 mandi yang disunnahkan menurut mazhab Syafi’i. Adapun 4 lainnya adalah mandi setelah memandikan mayit, mandi ketika masuk agama Islam, mandi ketika sembuh dari penyakit gila dan mandi ketika sadar setelah pingsan.

Pertama, mandi setelah memandikan mayit atau jenazah. Menurut pendapat yang shahih adalah disunnahkan, bukan diwajibkan, yaitu pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, ‘Aisyah dan beberapa sahabat Nabi yang lain; Ibnu Qudamah juga merajihkan pendapat ini dalam kitab alMughni (1/134).

Ibnu Umar berkata, “Kami–para sahabat—memandikan mayit, di antara kami ada yang mandi setelah itu dan ada pula yang tidak mandi.” (HR. AdDaruquthni)

Pendapat ini juga dirajihkan oleh Lajnah Fatwa ad-Daimah dan Syaikh Shalih Al-Utsaimin dalam kitab Syarhul Mumti’ (1/295).

BACA JUGA: 5 SUNNAH MANDI JUNUB

Yang harus dilakukan oleh seseorang setelah memandikan mayit adalah berwudhu, sebagaimana yang telah difatwakan oleh sebagian besar sahabat Nabi dan keluar dari khilaf para ulama. Adapun mandi setelah memandikan mayit maka tidak diwajibkan, hanya saja akan menjadi lebih utama apabila seseorang lebih memilih mandi.

Disunnahkannya mandi setelah memandikan mayit mengandung hikmah yang sangat agung, yaitu mandi tersebut mampu menghilangkan kelesuan badan setelah beraktivitas dengan jasad yang tidak memiliki ruh. Seperti yang dijelaskan oleh pemilik kitab Al-Bujairimi ‘ala Al-Khathib (1/372)—salah satu kitab mazhab Syafi’i—.

Kedua, mandi sebelum masuk Islam; baik dari kondisi murtad maupun kafir asli.

Secara umum ada dua pendapat tentang hukum mandi ketika masuk Islam, sebagian ulama ada yang mewajibkannya, tetapi menurut pendapat yang shahih–dan merupakan pendapat jumhur—adalah tidak diwajibkan, yaitu disunnahkan. Karena masuknya seseorang ke dalam Islam seperti halnya dengan taubat dari perbuatan kemaksiatan, sehingga tidak diwajibkan mandi sebagaimana tidak diwajibkannya mandi setelah bertaubat dari kemaksiatan-kemaksiatan yang ada. (Al-Hushni, Kifayatu al-Akhyar, hal 73-74)

Setelah itu para ulama merincikan dua keadaan orang yang ingin masuk Islam berkaitan dengan aktivitas mandi.

Pertama adalah seorang yang tidak dalam keadaan junub ketika ingin masuk Islam, artinya tidak terkena hadats besar seperti jimak, keluar mani, dan haid atau nifas bagi kaum wanita.

Menurut sebagian mazhab Hambali wajib mandi meskipun tidak terkena hadats besar. Sedangkan menurut jumhur ulama tidak diwajibkan untuk mandi, hanya disunnahkan saja. Pendapat kedua adalah pendapat yang rajih, karena sesuai dengan tabi’at agama Islam—yaitu memudahkan dan bukan menyusahkan—serta meneladani apa yang telah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. (An-Nawawi, alMajmu’, 2/152)

Imam al-Baghawi menyatakan dalam Syarhu as-Sunnah (2/172), “Ahlul ilmi berpendapat bahwa seorang yang masuk Islam disunnahkan mandi dan mencucui pakaiannya, hal itu tidak diwajibkan bagi mereka. Kendati demikian, sebagian ulama ada juga yang mewajibkannya.”

Adapun yang kedua adalah seorang yang ingin masuk Islam namun saat itu ia dalam keadaan berhadats besar. Ada dua pendapat ulama dalam hal ini, pertama adalah tidak diwajibkan baginya, karena ia belum terbebani dengan syari’at saat masih dalam kekafirannya. Selain itu, mandi adalah ibadah yang membutuhkan niat, sehingga tidak akan sah apabila masih dalam kekafirannya. Sedangan menurut jumhur ulama, dalam keadaan ini diwajibkan mandi. (An-Nawawi, alMajmu’, 2/152)

Dan pendapat yang rajih adalah mandi setelah masuknya seseorang ke dalam Islam apabila saat itu ia dalam kondisi berhadats besar, sebagai bentuk kehati-hatian. (Al-Hushni, Kifayatu alAkhyar, hal. 74)

Ketiga, di antara mandi yang disunnahkan adalah mandi ketika tersadar atau sembuh dari pingsan dan penyakit gila. Dalilnya adalah berdasarkan hadits dari ‘Aisyah–yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim—yang menceritakan keadaan Rasulullah saat hendak mengimami shalat namun beliau sedang sakit parah, dan beliau pingsan berkali-kali. Setiap kali bangun Rasulullah meminta agar disiapkan air di dalam bejana untuk mandi, setelah mandi kemudian beliau pingsan lagi, kemudian bangun dan mandi, lalu pingsan lagi.

Dalil tersebut menunjukkan bahwa mandi setelah tersadar dari pingsan hukumnya sunnah, bukan wajib, karena Rasulullah tidak memerintahkannya. Adapun mandi setelah sembuh dari penyakit gila maka para ulama mengqiyas-kannya dengan mandi ketika sadar dari pingsan, sebab ada dua illat yang sama pada pingsan atau gila, yaitu samasama kehilangan akal. Wallahu a’lam. []

 

%d bloggers like this: