3 Talak Sekali Ucap

3 Talak Sekali Ucap

Masih seputar perceraian, fenomena umat yang sangat memprihatinkan. Kata talak, atau cerai, dengan mudah terucapkan dari mulut seorang suami, bahkan tidak sedikit pula kata itu keluar dari mulut seorang istri; yang sebenarnya menurut syar’i seorang wanita tidak memiliki hak untuk menceraikan, tetapi ia boleh minta diceraikan oleh suaminya.

Sebagai umat Islam, umat yang beragama, dan umat yang selalu dibimbing dengan wahyu Allah di setiap jengkal langkahnya, tentu merasa malu dan terpukul. Ini tandanya sangat sedikit sekali umat ini yang memahami dengan benar arti sebuah pernikahan dan akibat dari talak itu sendiri.

Terkait dalam persoalan ini, kita sering mendengar kasus ucapan talak tiga sekaligus yang begitu mudah keluar dari lisan suami, apalagi bila dalam kondisi marah dan emosi. Dengan kalimat, “Aku ceraikan kamu tiga kali,” atau “Aku ceraikan kamu, aku ceraikan kamu, aku ceraikan kamu.” Dari sekian banyak kasus yang terjadi, tentunya para suami yang mengucapkan talak tiga sekaligus tidak didahului dengan pertimbangan syar’i dan tidak memikirkan akibatnya, baik pada masing-masing suami istri maupun pada anak-anak mereka.

Talak tiga sekaligus adalah bagian daripada talak bid’i, talak yang dibid’ahkan. Para ulama menjelaskan bahwa talak bid’i terjadi karena dua hal.

BACA JUGA: HUKUM MENTALAK WANITA HAID

Pertama, berkaitan dengan zaman, yaitu waktu atau kapan kalimat talak itu diucapkan, meliputi talak terhadap seorang wanita yang haid dan talak terhadap wanita suci (dari haid) yang telah dijimaki oleh suaminya.
Kedua, berkaitan dengan jumlah talak, yaitu mentalak wanita tiga kali dalam satu kalimat.

Tiga macam talak bid’i tersebut di atas menyelisihi apa yang diperintahkan oleh syari’at, para ulama sepakat atas keharamannya dan pelakunya menanggung dosa atas perbuatannya. (Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah, 2/264-265)
Tentang akibat yang didapatkan setelah terucapkannya tiga talak kepada wanita dalam satu kalimat maka para ulama berselisih pendapat menjadi empat pendapat, yaitu:

Pertama, jatuh sebagai talak tiga-talak bain- sehingga bagi wanita yang ditalak tidak halal bagi suaminya (yang mentalak dirinya) sampai dinikahi oleh orang lain. Pendapat ini disandarkan kepada Imam Mazhab yang empat dan Jumhur sahabat serta tabi’in. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 7/515)

Kedua, dianggap sebagai talak yang batil, sehingga tidak dianggap jatuh talak sama sekali karena dilakukan tidak sesuai dengan ajaran syari’at. Pendapat ini disandarkan kepada sebagian ulama tabi’in dan Mazhab Zahiri. (Ibnu Hazm, al-Muhalla, 161/10)

Ketiga, apabila wanita yang ditalak telah dijimaki maka jatuh sebagai talak tiga kali. Sebaliknya, apabila belum dijimaki maka jatuh pada talak satu. Pendapat ini disandarkan kepada sebagian sahabat seperti Ibnu Abbas, Ishaq dan Ibnu Rahawaih. (Asy-Syaukani, Nailul Authar, 16/7)

Keempat, jatuh sebagai talak satu yang memungkinkan bagi suami untuk kembali rujuk kepada istrinya, pendapat ini disandarkan kepada Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu Qayyim. (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, 3/19. Ibnu Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, 3/30)

Empat pendapat di atas berdasarkan dalil-dalil syar’i, namun pendapat yang dipilih adalah pendapat terakhir, yaitu jatuh sebagai talak satu. Pendapat ini lebih menimbang nilai tujuan diperbolehkannya talak, yang pada dasarnya talak adalah memutus hubungan yang sebelumnya diikat dengan janji suci. Juga sebagai mencegah terjadinya perbuatan dosa yang lain; seperti peluang untuk melakukan nikah tahlil yang dilarang syari’at, dan sebagai upaya untuk menghindar dari ‘keretakan  keluarga’ serta upaya untuk memperbaikinya. (Diringkas dari situs: http://www.alukah.net/sharia/0/96760/)

TALAK DALAM KONDISI MARAH

Adapun talak dalam kondisi marah, maka ada tiga keadaan.

Pertama, marah yang ringan. Marah yang sekiranya tidak mempengaruhi pada keinginan serta pilihannya, dalam kondisi seperti ini dianggap jatuh talak.

Kedua, marah keras yang sekiranya membuat dirinya tidak menyadari apa yang diucapkannya dan tidak menyadari ucapan talaknya, dengan amarahnya tersebut ia kehilangan akal sehatnya, maka dianggap tidak jatuh talak sebagaimana talaknya orang gila. Tidak ada perselisihan para ulama tentang hukum talak dalam masing-masing kondisi di atas.

Ketiga, adalah marah keras yang mempengaruhi pada keinginan dan pilihannya, dengan amarah tersebut ia terdorong untuk mengucapkan sesuatu, namun setelah amarah itu berlalu ia menyesali apa yang telah diucapkan, amarahnya tidak sampai membuat seseorang kehilangan akal sehatnya dan kesadaran dirinya. Tentang kondisi ketiga ini para ulama berselisih pendapat antara jatuh dan tidak talaknya. Namun menurut pendapat yang rajih adalah tidak jatuh talak, berdasarkan sabda Rasulullah, “Tidak jatuh talak dan pembebasan budak dalam kondisi marah.” (HR. Ibnu Majah).

Demikian ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beserta muridnya, Ibnu Qayyim, sampai beliau menulis sebuah buku yang berjudul Ighatsatu Lahfan fi Hukmi Talaqi Ghadhban. Dan pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdullah bin Baaz. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 18/29. https:// islamqa.info/ar/96194). Wallahu a’lam. []

 

#  3 talak, sekali ucap # 3 talak sekali ucap # 3 talak sekali ucap # 3 talak sekali ucap #

%d bloggers like this: