3 Fardhu Mandi Janabat

fardhu mandi

“Fardhu mandi ada tiga: Pertama niat, kedua menghilangkan najis jika terdapat najis di badan, ketiga membasai seluruh rambut dan kulit dengan air.”

وَفَرَائِضُ الْغُسْلِ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَةُ وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ إِنْ كَانَتْ عَلَى بَدَنِهِ وَإِيْصَالُ الْماَءِ إِلَى جَمِيْعِ الشَّعْرِ وَالْبَشَرَةِ

DIAWALI DENGAN NIAT

Mengawali mandi dengan niat, berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Segala amal hanya tergantung dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari). Para ulama mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali sepakat bahwa niat adalah fardhu dalam mandi, kecuali mazhab Hanafi berpendapat bahwa niat dalam mandi adalah sunnah, bukan fardhu. Namun menurut pendapat yang rajih, niat adalah fardhu dalam mandi, bahkan merupakan syarat sahnya seluruh macam ibadah. Dalam berniat, seseorang cukup meniatkan mandi besar atau meniatkan mandi yang dapat menjadikan dirinya diperbolehkan melakukan shalat.

BACA JUGA: 3 PERKARA YANG MEWAJIBKAN MANDI

Menurut mazhab Syafi’i, setelah berniat hendaknya lebih dahulu membersihan najis yang ada pada tubuh, demikian itu adalah syarat sahnya mandi. Meskipun para ulama bermazhab Syafi’i sendiri berselisih pendapat dalam persoalan ini. (Al-Hushni, Kifayatul Akhyar, hal. 66)

MENYIRAM SELURUH BADAN

Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa menyiramkan air ke seluruh anggota badan dari rambut dan kulit adalah fardhu dalam mandi. Berdasarkan hadits ‘Aisyah bahwa apabila Nabi n mandi janabah beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya kemudian berwudhu sebagaimana wudhu shalat, memasukkan jari-jemarinya ke dalam air kemudian menyela-nyela pangkal rambutnya, menyiramkan air ke kepala sebanyak tiga cidukan dengan tangannya, kemudian menyiramkan air ke seluruh permukaan kulit tubuhnya. (HR. Al-Bukhari)

Diwajibkan untuk mencuci seluruh anggota tubuh yang memungkinkan untuk dicuci. Para ulama juga menegaskan akan bagian-bagian yang sekiranya tidak mudah tersentuh air seperti lubang pusar, bawah dagu, bawah ketiak, bawah pantat, bawah lutut dan dua telapak kaki. Menyela jarijari tangan, jari-jari kaki, rambut, jenggot, bulu mata, bulu kumis, bulu ketiak dan bulu kemaluan. Untuk membersihkan kemaluan cukup dicuci bagian luarnya saja dan tidak perlu mencuci bagian dalamnya, sebab bagian dalam kemaluan sudah termasuk anggota tubuh bagian dalam yang tidak wajib dicuci saat mandi. (Asy-Syaukani, Fathul Qadir, 1/38)

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan menyiram seluruh badan, di antaranya adalah tentang berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Mazhab Hanafi dan Hanbali berpendapat wajibnya berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung ketika mandi, sebab mulut dan hidung adalah bagian dari wajah, sehingga wajib untuk dibasahi dengan air. Sedangkan mazhab Maliki dan Syafi’i tidak mewajibkannya, karena menurut mereka mulut dan hidung bukanlah bagian tubuh yang nampak, sehingga tidak wajib untuk dibasahi dengan air. (Asy-Syarbini, Mughniyul Muhtaj, 1/73. An-Nawawi, al-Majmu’, 2/180).

Adapun mengurai rambut bagi wanita maka jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i tidak mewajibkannya selama air yang disiramkan dapat menjangkau sela-sela pangkal rambut. Apabila tidak dapat membasahi pangkal rambut maka wajib untuk mengurai rambutnya. (Muhammad ath-Thayar, alFiqhu al-Muyassar, 1/119-120)

AL-MUWALAH (BERSAMBUNGAN)

Menurut mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali al-Muwalah dalam mandi adalah bagian dari apa yang disunnahkan, akan tetapi jika meninggalkan al-Muwalah kemudian anggota badan yang dicuci menjadi kering lantaran berhenti sejenak saat mandi, dan ketika ingin menyempurnakan mandinya maka wajib baginya untuk memperbarui niatnya. Sedangkan menurut mazhab Maliki dan sebagian mazhab Hanbali, al-Muwalah merupakan sesuatu yang difardhukan dalam mandi. Dan pendapat kedua adalah pendapat yang rajih, karena mandi adalah satu rangkaian ibadah yang tidak bisa dipisah-pisah, seperti halnya Rasulullah selalu menyelesaikan mandi dalam satu waktu. (Muhammad ath-Thayar, al-Fiqhu alMuyassar, 1/121)

MENGGOSOK

Mazhab Maliki berpendapat diwajibkan menggosok anggota tubuh ketika mandi, menurut mereka kewajiban menggosok ketika mandi adalah fardhu tersendiri dan tidak termasuk dalam rangkaian membasahi seluruh anggota tubuh dengan air. Sehingga siapa yang meninggalkannya maka ia wajib mengulangi mandinya. Pendapat serupa dinyatakan oleh imam AlMuzani dalam Mukhtashar-nya. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali menggosok anggota tubuh ketika mandi hukumnya sunnah. Pendapat inilah yang dinilai shahih oleh Lajnah Ad-Daimah AsSu’udiyah. (Fatawa Lajnah ad-Daimah, 5/323)

MEMBACA BASMALAH

Membaca basmalah saat hendak mandi hukumnya wajib menurut mazhab Hanbali, berdasarkan sabda Rasulullah, “Tidak dianggap wudhu seseorang apabila tidak menyebut nama Allah.” (HR. Ibnu Majah). Mereka meng-qiyas-kan mandi dengan wudhu. Akan tetapi menurut para ulama mazhab lainnya, seperti Hanafi, Syafi’i dan Maliki, membaca basmalah ketika mandi hukumnya sunnah dan inilah pendapat yang dinilai lebih rajih oleh para ulama. (Muhammad ath-Thayar, al-Fiqhu alMuyassar, 1/123). Wallahu a’lam. [ ]

%d bloggers like this: