Transaksi Jual Beli Aktifitas Vital Kehidupan Manusia

jual beli

Pada edisi sebelumnya sudah dijelaskan, bahwa harta adalah wasilah bagi umat manusia untuk mendapatkan kemakmuran hidup di dunia dan hidup di akhirat. Sehingga harta ini menjadi suatu kebutuhan bagi umat manusia, yang oleh Islam dipelihara dari terjadinya kezaliman di tengah-tengah kehidupan mereka.

Upaya Islam dalam memelihara harta melalui berbagai cara, ada potong tangan bagi orang yang mencuri melebihi batas yang ditentukan, ada syariat yang mengharamkan riba, ada perintah untuk mendapatkan harta dengan cara yang halal, dan lain sebagainya. Termasuk upaya Islam memelihara harta adalah disyariatkannya jual-beli.

Islam mengawal umat manusia dalam perjalanan jual-beli mereka dengan sekian hukum yang ada. Menunjukkan mana yang diperbolehkan (sah) dan mana yang dilarang (tidak sah). Menetapkan mana yang boleh ditransaksikan dan mana yang tidak boleh. Ini menujukkan bahwa dalam Islam transaksi jual-beli benar-benar diperhatikan.

MANUSIA MEMBUTUHKAN JUAL BELI

Seluruh umat Islam ini sepakat diperbolehkannya jual-beli, dan hikmah diperbolehkannya jual-beli adalah karena di antara yang dibutuhkan umat manusia adalah sesuatu yang dimiliki oleh saudaranya, dan orang lain tidak akan dengan mudah memberikan sesuatu tersebut melainkan mendapatkan ganti sesuatu yang lain. Dalam syariat jual-beli inilah setiap umat manusia akan mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya. Manusia adalah makluk sosial, yang tidak dapat hidup tanpa saling tolong menolong dengan yang lain. (Az-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, 4/346)

BACA JUGA: OBJEK DALAM TRANSAKSI

Di antara hikmah di balik jual-beli adalah memperluas lahan pencaharian dan menjaga keberlangsungan kehidupan di alam semesta ini. Karena dengan adanya jual-beli akan memadamkan api yang disulut oleh perselisihan, perampasan, pencurian, pengkhianatan, penipuan dan lain sebagainya.

Seseorang yang membutuhkan sesuatu yang tidak dimilikinya, sedangkan orang lain memiliki sesuatu yang dia butuhkan, maka akan timbul kecenderungan terhadap yang dimiliki oleh orang tersebut. Tanpa adanya syariat perjual-belian maka persoalan seperti ini memicu timbulnya pertikaian, perselisihan, dan tindakan yang tidak semena-mena di tengah kehidupan masyarakat.

Jual-beli merupakan salah satu cara untuk mendapatkan rezeki yang halal. Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, pendapatan seperti apakah yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Pendapatan yang dihasilkan seseorang melalui jerih payahnya sendiri, dan setiap jual-beli (yang tidak ada penipuan dan tidak ada pengkhianatan) itu diterima.” (Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim).

Dengan rezeki yang halal umat muslim sekaligus dapat memelihara agamanya, sebab secuil apa pun rezeki haram yang digunakan atau masuk ke dalam tubuh; apabila itu berupa makanan dan minuman, maka yang secuil itu akan menjadi perhitungan besar. Baik akibatnya akan dirasakan di dunia berupa kurangnya keberkahan atau akan dirasakan di akhirat berupa azab api Jahanam.

DEMI TERWUJUDNYA KEADILAN

Pada prinsipnya, syariat Islam bertujuan mewujudkan keadilan di tengah-tengah umat dan mencegah terjadinya kezhaliman antar sesama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Secara umum apa yang dilarang oleh al-Qur’an dan as-Sunnah dalam persoalan muamalat kembali pada tujuan penegakan keadilan dan pencegahan kezhaliman.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 28/285)

Sehingga, seiring dengan hukum-hukum yang ada dalam fikih jual-beli selalunya mengedepankan keadilan dan mencegah kezhaliman. Dengan menyerahkan apa yang menjadi hak orang lain, dan mengambil apa yang menjadi haknya, tidak saling berbuat lalim dan kehaliman antar sesama.

Contohnya, dalam kondisi di mana ada suatu barang yang sangat dibutuhkan, maka Islam melarang untuk menimbun barang tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Barangsiapa menimbun maka dia telah berbuat dosa.” (HR. Muslim).

Tujuannya adalah upaya mencegah mudharat akhibat penimbunan tersebut dan memenuhi kebutuhan masyarkat. Bahkan menurut Ibnu Taimiyah, dalam kasus seperti ini seorang pemimpin harus mencegah terjadinya kezhaliman dengan memaksa para penimbun untuk mengeluarkan barangnya dan menjualnya dengan harga biasanya. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 28/75-76)

KESIMPULAN

Demikianlah tujuan dan maksud disyariatkan jual-beli. Imam Asy-Syathibi mengatakan, “Maslahat yang diusung oleh syariat adalah maslahat yang menjadikan kehidupan dunia sebagai penegak kehidupan akhirat, bukan semata mengikuti hawa nafsu.” Harta dan segala perniagaannya yang terkesan sebagai kehidupan duniawi, namun Islam menjadikannya sebagai sarana untuk membangun kehidupan akhirat, mengawal perjalanan harta dan perniagaannya dengan hukum-hukum yang sempurna. (Asy-Syatibi, al-Muwafaqat, 2/37-38). Wallahu a’lam. [ ]

(Disadur dari kitab Maqashidu asy-Syari’ah alIslamiyyah wa ‘Alaqatuha bi al-Adillah asy-Syar’iyyah, karya Mas’ud al-Yubi, hal. 283-295. Dan http:// vb.mediu.edu.my/showthread.php?t=22956)

 

Oleh: Arif Hidayat

%d bloggers like this: