Jamak Shalat Jum’at dengan Ashar Bagi Musafir

Jamak Shalat Jum'at dengan Ashar Bagi Musafir

Para ulama bersepakat bahwa musafir tidak wajib melaksanakan shalat Jum’at. Meskipun jika ia melaksanakan shalat Jum’at dalam safar, maka shalat tersebut tetap sah.

Masalahnya, apakah dibolehkan menjamak antara shalat Jum’at dengan shalat Ashar? Di sinilah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

PENDAPAT YANG MELARANG

Para ulama mazhab Hanbali melarang jamak antara shalat Jum’at dan shalat Ashar. Manshur Al-Bahuti Al-Hanbali berkata, “Shalat Jum’at tidak bisa dijamak dengan shalat Ashar maupun shalat lainnya, dikarenakan tiadanya dalil yang menunjukkannya.” (Syarh Muntaha al-Iradat, II/5)

Di antara ulama kontemporer yang mengikuti pendapat ini adalah Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu-Syaikh, Abdul Aziz bin Baz, Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Abdul Karim al-Khudhair, dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Arab Saudi (Al-Lajnah adDaimah lil-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’).

Argumentasi mereka adalah:

• Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam berulang kali melakukan safar. Namun tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan beliau menjamak shalat Jum’at dengan shalat Ashar. Kaidah fikih menyebutkan al-ashlu fil ibadat al-ma’nu illa bi-dalil, yaitu hukum asal perkara ibadah adalah dilarang, sampai ada dalil syar’i yang memerintahkannya.

• Qiyas tidak berlaku dalam perkara ibadah. Maka shalat Jum’at tidak bisa diqiyaskan dengan shalat Zhuhur.

• Shalat Jum’at adalah sebuah shalat tersendiri. Ia memiliki tata cara khusus yang membedakannya dari shalat-shalat lainnya, sehingga tidak bisa diikutkan kepada shalat lainnya.

Di antara pembedanya adalah waktunya dimulai sejak terbitnya matahari seperti halnya waktu shalat ‘Idain, jumlahnya dua raka’at, bacaan Al-Fatihah dan surat dibaca dengan suara keras, dan didahului oleh dua khutbah.

• Pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam pernah terjadi hujan deras yang mengakibatkan kepayahan untuk berangkat ke masjid. Di antaranya dalam hadits Bukhari dari Anas bin Malik tentang orang Arab badui yang datang pada saat khutbah Jum’at dan meminta agar Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam memohon hujan kepada Allah. Allah lantas menurunkan hujan lebat selama satu pekan penuh. Meskipun hujan lebat, hadits itu sama sekali tidak menyebutkan Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam menjamak shalat Jum’at dan Ashar.

PENDAPAT YANG MEMPERBOLEHKAN

Para ulama mazhab Syafi’i memperbolehkan jamak antara shalat Jum’at dan shalat Ashar apabila ada udzur syar’i, seperti hujan deras, safar, dan lainnya.

An-Nawawi asy-Syafi’i berkata, “Boleh menjamak antara shalat Jum’at dan shalat Ashar dalam kondisi hujan deras. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Kaj, pengarang al-Bayan, dan lain-lain. Jika ia menyegerakan shalat Ashar ke waktu shalat Jum’at (jamak taqdim), disyaratkan adanya hujan deras pada saat mengawali kedua shalat tersebut. Demikian juga hujan deras pada saat salam dari shalat Jum’at.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, IV/262)

Taqiyuddin Abu Bakar al-Hushni asySyafi’i berkata, “Sebagaimana boleh menjamak antara Zhuhur dan Ashar, demikian pula boleh menjamak antara Jum’at dan Ashar. Jika dilakukan jamak taqdim, maka dipersyaratkan hal-hal yang menjadi syarat dalam jamak safar.” (Kifayatul Akhyar, I/173)

Di antara Ulama kontemporer yang memegangi pendapat ini adalah Syaikh Sa’ud bin Abdullah al-Funaisan dan Masyhur Hasan Alu Salman.

Argumentasi mereka adalah:

• Keumuman dalil-dalil rukhsah dan kemudahan dalam agama secara umum, serta dalam hukum-hukum safar secara khusus. Di antara bentuk rukhsah dalam safar adalah qashar dan jamak. Dalil-dalil syar’i menegaskan bahwa hukum-hukum dalam safar dibangun di atas dasar kemudahan dan rukhsah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar bin Khathab tentang shalat qashar dalam safar walaupun dalam kondisi aman, Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam bersabda, “Itu adalah sedekah Allah kepada kalian, maka terimalah sedekah-Nya.” (HR. Muslim, Ahmad, an-Nasai, dan Ibnu Majah)

• Kesamaan waktu antara shalat Zhuhur dan shalat Jum’at, menurut pendapat yang paling kuat di antara dua pendapat ulama. Waktu shalat Jum’at berbeda dengan waktu shalat ‘Idain.

• Syariat tidak membeda-bedakan antara dua perkara atau lebih yang serupa. Sebagaimana syariat tidak menyamakan antara dua perkara atau lebih yang berbeda.

Apa perbedaan antara jamak shalat Zhuhur dengan Ashar, dan jamak shalat Jum’at dengan Ashar, jika tingkat beban kesulitannya sama, atau bahkan tingkat beban kesulitannya lebih besar pada diri musafir?

• Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam berulang kali melakukan safar. Tidak ada riwayat dari beliau SAW yang melarang musafir untuk menjamak shalat Jum’at dengan shalat Ashar. Seandainya hal itu dilarang, niscaya akan ada riwayat yang sharih dari beliau. Sebab, kaidah fiqih menyatakan ta’khirul bayan ‘an waqtil hajah laa yajuuz, yaitu “tidak boleh menunda penjelasan di saat penjelasan itu dibutuhkan oleh umat”.

BACA JUGA: Jarak Minimal Safar yang Memperbolehkan Shalat Jamak dan Qashar

 

TINJAUAN PENDAPAT

Pendapat yang melarang jamak shalat Jum’at dengan shalat Ashar didasarkan kepada kaidah-kaidah umum. Kaidahkaidah umum tersebut dibantah pula dengan kaidah-kaidah umum oleh pendapat yang memperbolehkan jamak shalat Jum’at dengan Ashar.

Tentang tidak adanya qiyas dalam ibadah dan bahwa shalat Jum’at adalah shalat tersendiri dengan tatacara yang khusus, sehingga tidak bisa diqiyaskan dengan Zhuhur. Hal ini bisa dijawab sebagai berikut:

• Ia bukanlah qiyas dalam ibadah, melainkan qiyas dalam bab rukhshah. Dan hal itu diakui dan diamalkan oleh para ulama Ushul Fiqih, seperti disebutkan oleh AzZarkasyi dalam Al-Bahr al-Muhith fi Ushulil Fiqh dan Ibnu Najjar al-Hanbali dalam Syarh Al-Kaukab al-Munir.

• Shalat Jum’at dan Zhuhur memiliki beberapa kesamaan. Di antaranya kesamaan waktu, kesamaan udzur yang membolehkan untuk tidak menghadirinya di masjid, dan boleh mengerjakan Zhuhur di rumah pada hari Jum’at karena turunnya hujan deras. Selain itu, shalat Jum’at tidak wajib bagi musafir.

• Sahabat Anas bin Malik z menqiyaskan shalat Jum’at dengan shalat Zhuhur. Hal serupa dilakukan oleh Imam Bukhari. Dalam Shahih Bukhari-nya pada Kitab AlJumu’ah, beliau menulis Bab jika siang hari sangat panas pada hari Jum’at. Lalu beliau mencantumkan hadits Anas bin Malik z, ia berkata, “Jika suasana sangat dingin, biasanya Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam menyegerakan shalat dan apabila suasana sangat panas, beliau mengakhirkan shalat, yaitu shalat Jum’at.” (HR. Al-Bukhari no. 906)

Umumnya seorang musafir memiliki beban kesulitan karena harus melakukan perjalanan jauh demi memenuhi kebutuhan dunia atau akhiratnya. Adanya beban dan kebutuhan ini merupakan ‘ilat yang sangat kuat untuk berlakunya rukhsah jamak Jum’at dan Ashar bagi dirinya.

Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam melakukan jamak dua shalat dalam kota Madinah, padahal saat itu tidak ada udzur safar, hujan deras, maupun takut. Hal itu semata-mata adalah untuk meringankan beban dan kesulitan umatnya.

Imam Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, anNasai, dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas h bahwa ia berkata,“Nabi shalallahu ‘alaihu wa sallam pernah menjamak antara Zhuhur dan Ashar, dan antara Maghrib dan Isya’, di dalam kota Madinah, tanpa adanya rasa takut mauupun hujan.” Dalam lafal an-Nasai dan lainnya, “…tanpa adanya rasa takut maupun safar.” Saat Ibnu Abbas ditanya tentang alasan jamak tersebut, ia menjawab, “Beliau tidak menginginkan adanya kesempitan bagi umatnya.”

Ibnu Sirin, al-Khathabi, dan para ulama hadits menyimpulkan dari hadits ini bahwasanya jamak antara dua shalat itu diperbolehkan jika ada kebutuhan yang penting, meskipun tidak ada udzur syar’i, selama shalat jamak itu tidak menjadi kebiasaan. Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Ahmad Syakir, Muhammad Hamid al-Fiqi, dan banyak ulama kontemporer.

KESIMPULAN

1. Tidak ada dalil syar’i yang shahih dan sharih, yang memperbolehkan maupun melarang jamak shalat Jum’at dan Ashar. Yang ada adalah kaedah-kaedah umum dan dalil-dalil umum semata. Permasalahan ini adalah permasalahan ijtihad, sehingga orang yang berbeda pendapat tidak selayaknya diingkari. .

2. Sebagaimana dianjurkan oleh Syaikh Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi dalam Syarh Zadil Mustaqni’, sebagai kehati-hatian dan keluar dari perselisihan pendapat ulama (al-khuruj minal khilaf), lebih baik seorang musafir tidak menjamak shalat Jum’at dan Ashar Wallahu a’lam bishshawab. []

%d bloggers like this: