Halal Haram Meningitis

halal haram Meningitis

Sejak 2002, pemerintah Saudi telah menetapkan wajibnya vaksin meningitis kepada jamaah Haji dari berbabagai negara. Hal ini ditegaskan lagi dalam Nota Diplomatik dari Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta No. 588/PK/VI/06/61 yang menyatakan bahwa setiap jamaah Haji, tenaga kerja, dan umroh harus mendapat imunisasi meningitis untuk mendapatkan visa.Ketentuan ini bersifat wajib dan berlaku untuk semua jamaah Haji dari seluruh dunia. Setelah melakukan vaksin, jamaah Haji dan umrah akan mendapatkan kartu kuning, yaitu kartu vaksin meningitis yang akan disertakan dalam permohonan visa. Tanpa kartu ini, visa tidak akan diberikan.

Ketentuan dari Saudi ini barangkali didasarkan pada kasus-kasus penyebaran meningitis di tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 1987, sekira 99 jamaah Haji asal Indonesia terkena meningitis, 40 di antaranya meninggal dunia. Kasus serupa kembali terulang pada tahun 2000 meskipun jumlah korban tidak sebanyak sebelumnya.

Meningitis merupakan radang pada meningen, yaitu membran pelindung selaput otak dan sumsum tulang belakang.  Meningitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, parasit, dan juga non-infeksi. Gejala meningitis dapat berupa sakit kepala hebat tiba-tiba, kaku leher, fotophobia atau mata yang takut cahaya dan fonophobia atau telinga yang terlalu peka terhadap suara keras. Pada kasus komplikasi, pembengkakan otak akan mengurangi fungsi kontrol otak pada organ seperti mata, telinga, atau anggota lain.

(baca juga: Darurat Vaksin Meningitis Bagi Jamaah Haji)

Penanganan segera merupakan keharusan dalam menangani meningitis. Bila tidak diobati, meningitis yang disebabkan oleh bakteri hampir selalu fatal. Meningitis virus, sebaliknya, cenderung sembuh sendiri dan jarang fatal. Dengan pengobatan, risiko kematian meningitis bakterial bergantung pada usia penderita dan penyebab yang mendasari.

Pada bayi baru lahir, 20–30% mungkin meninggal karena meningitis bakterial. Risiko ini lebih rendah pada anak yang lebih tua, namun meningkat lagi pada dewasa. Vaksinasi merupakan pencegahan dini dari meningitis dengan biaya relatif lebih murah dan hasil yang sudah teruji.

Meningitis menular melalui udara dan pernafasan. Pada saat pelaksanaan ibadah Haji dan umrah, jamaah rawan terkena penyakit karena berkumpul dengan jamaah dari daerah lain, khususnya jamah dari Afrika Sub Sahara yang merupakan meningitis belt. Angka serangan dari 100–800 kasus per 100.000 orang terjadi di daerah ini.

Epidemik terbesar yang pernah tercatat pada 1996–1997 menyebabkan lebih dari 250.000 kasus dan 25.000 kematian. Padahal, Jamaah Haji dan umrah dari Afrika tidak sedikit. Setelah penetapan wajibnya vaksin, kasus meningitis sebagaimana tahun 1987 dan 2000 tidak lagi dijumpai hingga hari ini.

Di Indonesia, melalui peraturan menteri kesehatan, vaksin diberikan kepada setiap orang yang akan melakukan perjalanan internasional dari dan ke negara terjangkit dan atau endemis penyakit menular tertentu dan atau atas permintaan negara tujuan. Hal yang menjadi masalah adalah status kehalalan vaksin meningitis. Pada tahun 2009,

Majelis Ulama  Indonesia menyatakan bahwa vaksin meningitis haram berdasarkan  fatwa no. 05 tahun 2009.
MUI menyatakan bahwa dari Keterangan Prof. DR. Hj. Anna P. Roswiem berdasarkan penjelasan dari Glaxo Smith Kline Beecham Pharmaceutical-Belgium, produsen MencefaxTM ACW135Y, bahwa dalam proses pembuatan vaksin tersebut telah terjadi persinggungan dengan bahan media yang dibuat dengan enzim dari pankreas babi dan gliserol dari lemak babi.

MUI memutuskan, penggunaan Vaksin Meningitis  yang mempergunakan bahan dari babi dan atau yang dalam proses pembuatannya telah terjadi persinggungan dengan bahan babi adalah haram. Namun demikian, karena pemerintah saudi menerapkan wajibnya vaksinasi meningitis, maka penggunaan vaksin meningitis dibolehkan untuk kebutuhan mendesak. Ketentuan ini hanya berlaku sementara sampai ditemukan vaksin yang halal.

Dan pada 2010, MUI melalui fatwa no.06 tahun 2010 menyatakan bahwa ada dua vaksin meningitis yang halal. Yaitu vaksin Menveo Meningococcal dan vaksin Meningococcal. Vaksin Menveo Meningococcal diproduksi oleh Novartis Vaccine and Diagnostic S ri dari Italia dan vaksin Meningococcal Zhei Jiang Tianyuan Bio Pharmaceutical Co Ltd.

Dalam fatwanya, MUI mengklaim telah melakukan audit ke tiga perusahaan vaksin meningitis.

Pertama, hasil dari tim auditor untuk Glaxo Smith Beecham Pharmaceutical- Belgium. Dinyatakan bahwa proses pembuatan vaksin di perusahaan ini pernah bersentuhan dengan babi.

Kedua, Tim auditor untuk Novartis  Vaccine and Diagnostic S ri menyatakan bahwa pada proses pembuatan vaksin di perusahaan ini tidak bersentuhan dengan babi dan telah melalui proses penyucian.

Dan yang ketiga adalah tim auditor untuk Zhei Jiang Tianyuan Bio Pharmaceutical Co Ltd. Tim auditor menyatakan bahwa proses pembuatan vaksin di perusahaan ini tidak bersentuhan dengan babi dan telah melalui proses penyucian.

Berikutnya dinyatakan bahwa fatwa mengenai vaksin meningitis pada 2009 tidak berlaku lagi setelah fatwa tahun 2010 ini dirilis. Dan hingga kini, vaksin yang diberikan kepada jamaah Haji dan umrah adalah vaksin halal berdasarkan fatwa ini. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: