Tukar Kado Gharar

hukum tukar kado

Ustadz, saya adalah wali siswa di sebuah Sekolah Dasar Islam. Dalam suatu acara, kami mendapatkan surat edaran agar anak kami berangkat ke sekolah membawa kado senilai 20,000 rupiah. Rencananya kado itu akan dikumpulkan , lalu di penghujung acara kado akan dibagikan secara acak. Alasan pihak sekolah adalah menanamkan benih cinta kepada sesama orang yang beriman dalam hati anak-anak. Tidak bertentangan dengan fikih muamalah-kah acara tukar kado tersebut? (Amaturrahman—Surakarta)

 

BACA JUGA: RIBA PERUSAK TRANSAKSI

 

Ada satu kaidah yang harus diingat baik-baik sehubungan dengan akad-akad muamalah. Kaidah itu berbunyi, “Yang dijadikan sebagai tolok ukur (benar/tidaknya) suatu akad adalah maksud dan substansi, bukan nama/sebutan dan strukturnya.”

Meskipun suatu akad diberi nama yang bagus tetapi jika substansinya bertentangan dengan syariat, ia tetap transaksi yang batil. Meskipun riba diberi nama bunga, ia tetaplah haram.

Untuk kasus tukar kado, meskipun diberi nama saling memberi hadiah, tetap saja substansinya adalah barter—jual beli, di mana syaratnya adalah barang yang dipertukarkan jelas, tidak terbungkus kertas kado. Tidak boleh mengandung unsur gharar—spekulasi. Itu pun harus dilakukan saling rela.

Tukar kado tidak bisa diberi nama saling memberi hadiah karena saling memberi hadiah yang disebut oleh Rasulullah n tidak dipersyaratkan adanya imbalan dari pihak yang diberi hadiah.

Jangan sampai kita bermaksud baik tetapi cara yang kita pakai keliru. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: