Taat Kepada Suami Taat Kepada Orang Tua

Taat Kepada Suami Taat Kepada Orang Tua

Bagi istri, mentaati suami dan mentaati kedua orang tua adalah dua kewajiban yang disyariatkan. Jika ia mampu maka hendaknya ia mentaati keduanya secara bersamaan, jika tidak mampu; boleh karena mentaati suami bersebrangan dengan mentaati kedua orang tua, maka yang didahulukan adalah mentaati suami selama dalam hal yang makruf dan masih dalam status tanggung jawab suaminya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil’.” (QS. Al-Isra: 24)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, ‘Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka’.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits lain beliau juga bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintah istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Abu Dawud)

Kedua hadits di atas shahih menurut Imam al-Albani rahimahullah, sebagaimana beliau sebutkan dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu (1/174) dan Irwa’ al-Ghalil (7/54).

Nash yang memerintahkan untuk taat kepada suami tidak bertentangan dengan nash yang memerintahkan untuk taat kepada kedua orang tua.

 

BACA JUGA: SUAMI TAK IZINKAN BERANGKAT HAJI

 

Kewajiban seorang wanita taat kepada orang tua adalah selama dirinya masih menjadi tanggung jawab mereka. Ketika tanggung jawab dirinya berpindah kepada suaminya maka ketaatannya berpindah kepada suaminya.

Namun demikian, ini bukan berarti seorang wanita boleh tidak berbakti kepada kedua orang tuanya setelah menikah, berbakti kepada mereka terus diwajibkan baik sebelum menikah, setelah menikah, saat mereka masih hidup dan bahkan saat mereka telah tiada. (https://ar.islamway.net)

IZIN MENJENGUK ORANG TUA

Para ulama sepakat, istri boleh keluar rumah saat dalam kondisi darurat tanpa sepengetahuan atau izin suami, seperti jika terjadi kebakaran, perampokan dan semisalnya. Namun para ulama berselisih pendapat tentang keluarnya istri untuk menjenguk kedua orang tua dan keluarganya.

Mazhab Hanbali berpendapat, suami memiliki hak penuh untuk melarang istri dari menjenguk kedua orang tuanya dan istri berkewajiban untuk mentaati suami. Hanya saja mazhab ini menganjurkan bagi suami untuk mengizinkan istrinya selama hal itu adalah makruf, suami juga hendaknya mendukung istrinya yang ingin menyambung tali kekerabatan kepada keluarganya dan melarang istrinya dari memutus tali silaturahmi. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 7/295. Al-Bahuty, Kasyaful Qina’, 5/197)

Sedangkan bagi mazhab Hanafi dan Maliki maka suami tidak memiliki hak untuk melarang istri yang ingin menjenguk kedua orang tuanya, dengan syarat niatan istri tersebut adalah dalam rangka kemakrufan dan senantiasa menjaga amanah. (Muhammad bin Sulaiman, Majma’u al-Anhar fi Syarhi Multaqa al-Abhar, 1/493. Ibnu Abidin, Hasyiyah Ibnu Abdidin, 3/602. Ibnu Nujaim al-Mishri, al-Bahru ar-Raqaiq, 3/4)

Para ulama juga berselisih pedapat tentang berapa kali dalam waktu tertentu seorang istri diizinkan menjenguk kedua orang tuanya.

Menurut mazhab Maliki, istri hendaknya diizinkan satu minggu sekali. Sebagian mazhab Hanafi sependapat dengan mazhab Maliki, namun sebagian yang lain berpendapat untuk memberi izin sesuai dengan kebutuhan dan kewajarannya. Dengan demikian suami akan dapat menimbang sesuai dengan kondisi maslahat dan mudarat. Sebab, apa pun alasannya seorang wanita yang bebas keluar rumah akan menimbulkan fitnah bagi yang lain. (Ibnu Abidin, Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/346. Al-Khurasyi, Syarah Mukhtashar Khalil, 4/188)

KOMUNIKASI SUAMI & ISTRI

Penjelasan di atas menyebutkan beberapa hukum fikih seputar kewajiban seorang istri mentaati suaminya, bahkan mengalahkan ketaatannya kepada kedua bapak ibu dan saudara laki-lakinya.

Demikian itu benar dan para ulama sepakat, namun yang terpenting dalam hal ini adalah menjalin komunikasi yang baik antara suami dan istri. Meskipun suami adalah sosok yang ditaati namun hendaknya ia mengerti apa yang akan membuat istrinya merasa bahagia dan mendapatkan ketentraman.

Jika dengan membawanya ke rumah kedua orang tuanya adalah kebahagiaan baginya dan anak-anaknya maka itulah yang dimaksud dengan perbuatan makruf, bahkan hendaknya suami memerintahkan istrinya untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua dan merawat mereka. (http://fatwa.islamweb.net). Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: