Saren, Bergizi Tapi Haram Dikonsumsi

Saren, Bergizi Tapi Haram Dikonsumsi

Makhluk peminum darah bernama vampir memang hanya mitos. Tapi realitanya, manusia biasa pun ada pula yang menghisap darah. Ada yang benar-benar menghisap darah manusia seperti Julia Caples, sorang wanita dari Pennsylvania, atau menghisap dalam arti meminum atau memakan darah binatang. Ada yang minum darah kobra, minum darah hewan yang dikorbankan, atau yang paling jamak, memakan darah beku yang dimasak.

Kita mengenal istilah dideh, saren atau marus. Saren adalah darah binatang sembelihan yang mengental lalu dimasak atau digoreng. Bentuk dan warnanya mirip dengan hati sapi, hitam kemerahan. Teksturnya juga hampir sama, hanya saja hati berserat dan lebih kaku, sedangkan saren lembut seperti tahu dan berongga. Saren dapat dicampur dalam berbagai masakan; sate, masakan bersantan, maupun oseng.

Saren Bergizi, benarkah?

Selain karena rasa, sebagian orang gemar mengonsumsi saren karena manganggap menu satu ini sarat akan gizi. Diyakini, saren mengandung protein tinggi. Selain protein, unsur lain seperti fosfor dan zat-zat gizi banyak terkandung dalam ‘menu vampir’ satu ini.

Benarkah anggapan ini? Menurut penelitian, darah memang mengandung protein dalam kadar yang tinggi. Untuk 100 gr darah sapi, kadar proteinnya mencapai 21,9 gr. Urutan kedua ditempati fosfor yang mencapai 24mg. (www.organisasi.org). Namun, bukan berarti setiap yang mengandung gizi layak dimakan. Unsur yang terkandung dalam darah bukan hanya gizi, tapi juga racun, bakteri dan kotoran hasil metabolisme.

Seperti kita tahu, darah ibarat truk pengakut dalam metabolisme tubuh. Dari jantung, darah mengangkut unsur-unsur bermanfaat seperti oksigen dan berbagai macam gizi untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Setelah itu, darah membawa sisa oksidasi dan metabolisme seperti karbondioksida, racun-racun dan urine untuk disaring di paru-paru, ginjal, atau dikeluarkan lewat keringat.

baca juga: Kode E Belum Tentu Haram

Jadi, darah tak layak dijadikan bahan pangan. Mengonsumsi darah berarti pula mengonsumsi berbagai racun yang ada dalam darah. Penyembelihan dilakukan, fungsi utamanya adalah untuk mengeluarkan darah dari tubuh hewan. Penyembelihan yang terbaik adalah penyembelihan konvensional yang tidak menggunakan metode pemingsanan. Gerak reflek pada otot hewan saat disembelih akan membantu mengeluarkan darah secara maksimal hingga daging pun lebih sehat. Bukan lain karena darah merupakan media pembusuk yang paling efektif. Tentunya sangat aneh jika hewan disembelih untuk dimatikan dan dikeluarkan darahnya, tapi setelah itu darahnya justru dimasak.

Haram dan Najis

Dalam Islam, darah sembelihan tak hanya haram tapi juga najis. Tentang haramnya darah, secara jelas al-Quran menyebutkan:

“Katakanlah, ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir, dan daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor (rijs).” (QS. al-An’am: 145).

Haramnya darah dijelaskan dalam al-Qur’an, Hadits, dan sudah menjadi ijma ulama. Adapun mengenai kenajisannya, disebutkan dalam al-Wajiz fi al Fiqh al Islami wa Adillatuhu I/32 bahwa yang najis adalah darah yang keluar dari leher binatang saat penyembelihan dan darah yang keluar dari tubuh manusia seperti darah haid dan nifas. Adapun darah yang tersisa di tubuh binatang yang telah disembelih tidak najis dan tidak haram. Dan saren dibuat dari darah yang mengucur saat penyembelihan.

Sesuatu yang haram belum tentu najis, sementara yang najis pastilah haram. Dibanding benda-benda kotor, benda najis lebih rendah kedudukannya. Kita masih boleh shalat dengan pakaian yang terkena cipratan air kubangan yang keruh. Tapi air kencing, sejernih apapun harus dibersihkan dari pakaian saat beribadah. Ini menunjukkan betapa barang najis itu harus dijauhi. Jangankan dimakan, disentuh pun sebisa mungkin tidak.

Jadi, berhati-hatilah terhadap sajian mirip hati sapi atau bacem tahu ini. Saren, dideh, marus atau apapun namanya, haram hukumnya dan sangat tidak layak dikonsumsi. Dan karena saren hukumnya najis, kita juga harus menghindari semua makanan di warung yang menyajikan saren. Mengapa? Karena mustahil saren ini digoreng dengan minyak dan wadah tersendiri. Artinya, semua gorengan bahkan mungkin sayur di warung tersebut hampir bisa dipastikan bersentuhan saren yang najis. Digoreng dalam wajan dan minyak yang sama.

Telitilah sebelum membeli. Saren bukanlah hidangan yang disembunyi-sembunyikan layaknya daging babi, ayam tiren, atau daging haram lainnya. Saren, di beberapa daerah menjadi menu yang memang biasa disantap. Dihidangkan begitu saja kepada konsumen. Andai saja darah hukumnya hanya haram, barangkali kita masih bisa tetap makan di warung tersebut. Namun karena darah najis, sebaiknya kita tinggalkan warung yang menyajikan saren.

Pemanfaatan Barang Najis

Tak hanya dikonsumsi, darah sembelihan hewan, utamanya sapi juga biasa dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan pupuk. Darah merupakan limbah terbesar dari RPH (Rumah Penyembelihan Hewan). Darah sapi dapat diolah menjadi tepung darah. Tepung darah digunakan sebagai campuran untuk pakan ikan dan udang. Kandungan protein yang cukup tinggi dalam darah menjadi asupan nutrisi bagi ternak.

Tepung darah dapat pula dijadikan pupuk tanaman. Cara pembuatan tepung darah cukup mudah. Darah sapi dibiarkan mengental, dikeringkan dan digiling. Darah dapat pula dimanfaatkan sebagai pupuk semprot untuk mempercepat pertumbuhan stomata atau pucuk baru tanaman. Pupuk semprot dari darah dibuat dengan memfermentasi darah dengan EM 4 (semacam ragi) selama 14 hari dicampur gula dan air.

Mengenai hal ini, ada beberapa hal yang perlu dirinci untuk menentukan hukum pemanfaatan darah atau benda najis yang lain semisal kotoran manusia dan kotoran binatang yang haram disembelih.

Pertama, soal penggunaan benda najis sebagai pupuk. Jika digunakan sebagai pupuk akar, ulama Syafi’iyah menyatakan boleh tapi makruh memanfaatkan benda najis sebagai pupuk tanaman. (al Majmu’ Syarhul Muhadzab, IV/338, versi syamilah). Demikian pula mazhab Hanafiyah dan Malikiyah. Adapun jika disemprotkan, maka tanaman-tanaman yang disemprot dengan benda najis menjadi najis dan harus dibersihkan.

Kedua, mengenai pemanfaatan benda najis sebagai pakan ternak. Misalnya memberi makan ternak dengan tepung darah atau lele dengan bangkai ayam. Memberi makan ternak dengan benda najis dapat mengubah status ternak menjad jalalah. Jalalah adalah hewan ternak yang diberi pakan dengan benda najis seperti darah, bangkai, dan kotoran manusia. Hewan jalalah tidak boleh dikonsumsi sampai dilakukan pembersihan. Yaitu, memberi makan hewan tersebut dengan pakan yang suci selama beberapa waktu. Dalilnya:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makan hewan jalalah dan susu yang dihasilkan darinya.” (HR. Abu Daud, no. 3785 dan at-Tirmidzi, no. 1824. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Adapun mengenai hukum jual beli benda najis, para ulama menyatakan bahwa haram hukumnya menjual-belikan benda najis berdasarkan pada hadits:

“Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi, sesungguhnya tatkala Allah mengharamkan atas mereka untuk memakan lemak binatang, merekapun mencairkannya, kemudian menjualnya, dan akhirnya mereka memakan hasil penjualan itu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ اللهّ إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ

“Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu, pasti mengharamkan pula hasil penjualannya.” (HR Ahmad).

Adapun memanfaatkan sendiri atau memberikan darah hasil sembelihan kepada seseorang untuk dimanfaatkan sebagai pupuk hukumnya boleh. Wallahua’lam.

 

 

%d bloggers like this: