Referensi Utama Fikih Madzhab Syafi’i

Al-Mu’tamad fi al-Fiqhi asy-Syafi’i

Kitab  :  Al-Mu’tamad fi al-Fiqhi asy-Syafi’i

Karya  :  Dr. Wahbah az-Zuhaili

Al-Mu’tamad fi al-Fiqhi asy-Syafi’i adalah kitab fikih bermazhab Syafi’i yang disusun oleh seorang ulama kontemporer bernama Dr. Wahbah azZuhaili, kitab fikih yang disajikan dengan sangat sederhana namun tetap serat dengan nuansa salaf dalam mazhab Syafi’i.

BACA JUGA: Ensiklopedi Fikih Persembahan Negara Kuwait

Di zaman maju ini, penulis melihat beberapa kitab mazhab fikih yang masyhur mendapat perhatian besar di tengah umat Islam. Seperti kitab-kitab mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali dan lain sebagainya. Mereka berupaya menjaga dan memelihara isi dari apa yang telah dituangkan oleh masing-masing ulama mazhabnya. Mulai dari mentakhrij, mentahqiq, menjadikan kitab mazhab sebagai undang-undang serta panduan hukum peradilan, menjadikan sebagai kitab panduan pengajaran, menyebar luaskan kitab-kitab yang telah diterbitkan dalam cetak buku; bahkan tidak sedikit dari mereka membagikan kitab-kitab tersebut secara cuma-cuma.

Berdasarkan motif inilah penulis memutuskan untuk menyibukkan diri dalam penyusunan kitab bermazhab Syafi’i dengan penyajian yang ringan dan mudah ditela’ah oleh umat Islam, penulis bekerja sama dengan penerbit Dar al-Qalam Damaskus dalam rangka penerbitan kitab tersebut.

Tentunya kitab al-Mu’tamad ini disusun dengan khas penulis, Dr. Wahbah az-Zuhaili, yang telah menulis beberapa buku fikih; baik fikih dalam mazhab tertentu maupun fikih perbandingan. Yaitu dengan gaya bahasa modern, pemaparan yang sederhana, disertai dengan penjelasan dalil serta ta’lil hukumnya.

Penulis berharap, ketika seorang muslim membaca atau menela’ah kitab ini akan memahami hukum Allah, pertama. Kedua, pembaca akan merasa yakin dan puas terhadap dalil-dalil yang telah penulis sebutkan, baik dalil dari al-Qur’an, asSunnah, dan Ijtihad para ulama. Penulis juga menyebutkan metode-metode penyusunan kitab ini di awal mukaddimahnya, di antaranya adalah:

Pertama, pengacu pada pendapat yang rajih dalam mazhab Syafi’i serta cukup menyebutkan pendapat tersebut tanpa menyebutkan pendapat yang marjuh atau dha’if kecuali sangat jarang sekali, yaitu apabila ternyata pendapat mazhab Syafi’i sendiri yang dinilai dha’if oleh para ulama maka penulis menyebutkan pendapat mazhab lainnya.

Kedua, menjelaskan dalil-dalil syar’i dalam persoalan fikih mazhab Syafi’i. Imam asy-Syafi’i adalah salah seorang imam mujtahid dan ahli fikih, sehingga beliau tidak hanya mengucapkan satu pendapat saja, bahkan lebih daripada itu. Beliau tidak berijtihad melainkan berdasarkan dalil-dalil syar’i, baik berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ para ulama, dan berijtihad dengan dalil Qiyas. Dalil-dalil syar’i tersebut telah disepakati oleh para ulama sebagai dasar untuk berijtihad, beliau juga menjadikan Istishhab sebagai dalil untuk berijtihad.

Ketiga, menulis ayat lengkap dengan nama surat dan nomor ayat serta mentakhrij hadits secara ringkas yang disandarkan pada kitab-kitab sunnah yang telah diterbitkan. Penulis merasa cukup dengan menyebutkan keterangan ringan apabila hadits tersebut berasal dari kitab ash-Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) atau salah satunya, dan penulis menerangkan derajat hadits apabila hadits tersebut berasal dari selain kitab ashShahihain.
Keempat, penulis menyebutkan referensi pada setiap catatan kaki secara ringkas, dengan demikian kitab ini bernuansa akademisi yang dapat memudahkan para penuntut ilmu terutama mereka yang berada dalam pendidikan formal.

Kelima, selain mengedepankan mazhab Syafi’i maka penulis juga menyebutkan mazhab lain yang banyak dipakai oleh umat Islam. Sehingga pembaca dapat mengetahui hukum fikih secara lebih luas untuk melatih umat menerima perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Keenam, dalam kitab ini tidak disebutkan pembahasan seputar budak dan pembebasannya melainkan hanya singgungan-singgungan saja, seperti dalam bab balasan dan kafarat penulis sedikit menyinggung tentang hukum budak dan pembebasannya.

Ketujuh, penulis lebih memperhatikan pada pesoalan-persoalan yang sering terjadi hari ini dan yang sering ditanyakan atau dibutuhkan oleh umat. Karena pada dasarnya kitab ini adalah hasil dari tela’ah kitab-kitab fikih yang diawali dengan adanya pertanyaan-pertanyaan kepada penulis.

Kitab al-Mu’tamad tersusun dari 5 jilid dan masing-masing jilid terdiri dari 600 sampai 700 halaman. Jilid pertama meliputi pembahasan tentang thaharah, shalat, hukum seputar jenazah. Jilid kedua meliputi pembahasan zakat, puasa, haji dan umrah. Jilid ketiga tentang persoalan jual-beli sampai persoalan barang temuan. Jilid keempat tentang nikah, talak, iddah dan wasiat. Dan jilid kelima meliputi pembahasan jihad, hukuman dan peradilan. Wallahu a’lam. []

Disarikan dari mukaddimah kitab al-Mu’tamad fi alFiqhi asy-Syafi’i, 1/5-7, cet. 2, th. 2011, Dar al-Qalam Damaskus.

%d bloggers like this: