MLM Taktik Marketing Atau Penipuan?

MLM Taktik Marketing Atau Penipuan

AVON, AMWAY, CNI, Tianshi, K-Link, Oriflame, Tupperware, Sophie       Martin, dan HPA. Familiar dengan nama-nama ini? Ya, benar. Brand-brand itu adalah raksasa bisnis dengan sistem MLM (Multilevel Marketing). Sebagian berasal dari luar negeri seperti AMWAY dari Amerika, Tianshi dari China, K-Link dan HPA dari Malaysia. Ada juga yang asli Indonesia seperti CNI (Citranusa Insan Cemerlang) dan Sophie Martin atau Sophie Paris.

Meskipun banyak pro kontra dan tertimpa beberapa kasus, brand-brand tersebut masih eksis hingga saat ini. Tidak semua menggunakan sistem MLM murni. Sophie Martin misalnya, perusahaan yang didirikan oleh ekspatriat dari Prancis yang tinggal di Indonesia ini menerapkan sistem penjualan langsung dan MLM. Demikian juga Oriflame yang menerapkan sistem MLM dan direct selling. Selain brand-brand besar yang telah mengantongi legalitas sebagaimana tersebut di atas, ada ratusan merk lain yang menggunakan MLM sebagai sistem marketingnya dan mungkin belum memiliki ijin.

MLM SEBAGAI SISTEM MARKETING

Pada dasarnya, MLM merupakan salah satu sistem untuk memasarkan barang sebagaimana sistem-sistem lain. Sistem MLM memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Kelebihannya, hanya dengan membayar atau mendaftar, seseorang bisa langsung menjadi pemasar dari produsen. Produk MLM biasanya juga unik alias sulit ditemui di pasaran dan diakui memiliki kualitas baik. Inilah yang digunakan untuk menarik minat dan mengunci loyalitas. MLM juga membuat membernya kreatif dalam memasarkan dan merekrut anggota.

BACA JUGA: MLM BOLEH JIKA..

Adapun kelemahannya, pertama, karena berorientasi pada penjualan produk dan rekrutmen member, sistem ini seringkali berubah menjadi moneygame. Penjualan produk tidak lagi menjadi fokus utama karena member fokus pada rekrutmen member baru (downline) demi mendapatkan bonus. Adapun omset penjualan produk biasanya tidak akan ditingkatkan, yang penting mampu TUPO (Tutup Point).   Dan dari sinilah masalah-masalah MLM bermula.

Demi mendapatkan downline, seorang pegiat MLM harus bekerja keras dalam melakukan rekrutmen. Sekadar meyakinkan kualitas dan manfaat produk saja biasanya tidak cukup. Pasalnya, jikapun produk MLM memang bagus, harganya pasti jauh lebih mahal dari produk serupa di pasaran, bahkan sangat mahal.  Oleh karenanya, pegiat MLM lebih sering mempropagandakan bonus dari rekrutmen downline daripada orientasi produk.

Sayangnya, rekrutmen member tidaklah mudah. Akhirnya, tidak sedikit yang menghalalkan segala cara demi mendapat member. Manipulasi, dusta, dan intimidasi menjadi cara yang sudah menjadi rahasia publik, sering dilakukan oleh pegiat MLM. Contohnya, untuk meyakinkan calon member akan kesuksesan pegiat MLM, akan  ditampilkan sosok berpakaian perlente yang melakukan poto selfie di depan mobil mewah, rumah mewah hingga kapal pesiar. Hitung-hitungan bonus dengan nominal luar biasa juga selalu menjadi bahan presentasi dalam rekrutmen. Bahkan tak jarang, seorang perekrut harus rela merogoh kocek guna mentraktir calon member yang sedang di prospek, semata demi pencitraan bahwa dirinya telah sukses, padahal belum.

Kesulitan dalam memprospek calon member juga acapkali membuat pegiat MLM bersikap arogan dan represif dalam melakukan pendekatan. Orang-orang yang pernah diprospek biasanya akan bercerita mendapat sms/telepon yang bertubi dan ajakan-ajakan bertemu yang kelewat intens yang membuat mereka jengah. Dan satu lagi, perekrut tentu tidak akan pernah menjelaskan risiko dan kelemahan dalam bisnis MLM. Padahal, sistem MLM, sebagaimana sistem lain pasti memiliki risiko karena setiap jual beli pasti berpotensi untung dan rugi.

Semua ini membentuk citra buruk bagi MLM di kalangan masyarakat. Ditambah lagi, berbagai MLM ternyata hanyalah tipuan belaka dan uang pendaftaran atau investasi dilarikan para petingginya tanpa bisa dilacak. Propaganda MLM yang selalu menjanjikan kesuksesan dipandang tidak konsisten dengan kenyataan bahwa meeting-meeting mereka sering terlihat tidak berkelas dan minim dana; numpang di tempat gratis, snack seadanya atau kenyataan bahwa perekrut yang tengah presentasi sebenarnya secara ekonomi tidak mampu meski pakaiannya saat presentasi terlihat mewah.

Kedua, soal produk. Beberapa produk MLM diakui secara luas memiliki keunikan tersendiri dan kualitas yang baik. Beberapa lainnya mengandalkan brand image yang memang sudah cukup tenar seperti Sophie Martin. Sayangnya, harga produk MLM biasanya sangat mahal. Hal ini pulalah yang membuat member kesulitan menjual produk secara direct selling guna meningkatkan omset dan akhirnya hanya fokus pada rekrutmen member.

MLM PENIPU

Selain brand-brand MLM yang terkenal dan besar, ada ratusan MLM lain yang beroperasi di kota besar bahkan masuk pelosok kampung. Parahnya, MLM-MLM ini seringnya hanya moneygame belaka atau bahkan penipuan berkedok MLM dan investasi bodong. Ciri-cirinya dapat dilihat dari beberapa hal berikut:

Pertama, mengenai legalitas. Perusahaan MLM abal-abal biasanya tidak mampu menunjukkan surat-surat terkait ijin perdagangan. Sesuai dengan Surat Edaran Bina Usaha dan Pendirian Perusahaan Kementerian Perdagangan No.372/PDN2/9/2005 tanggal 6 September 2005 tentang Perusahaan Bersistem MLM, perusahaan yang menggunakan sistem MLM harus memiliki dua syarat:

1. Perusahan harus berbentuk badan Hukum PT (Perseroan Terbatas).
2. Memiliki SIUPL (Surat Ijin Usaha Penjualan langsung)

Biasanya, MLM abal-abal akan berkelit saat ditanya surat ijin ini. Jika sekadar untuk menipu, mengurus surat ijin akan menjadi modal yang tidak sedikit. Mengurus ijin usaha memerlukan tenaga, dana, dan suratsurat legal lain yang tidak sedikit. Artinya, jika nantinya perusahaan ini bermasalah, ada identitas-identitas yang memang bisa dirunut untuk dituntut. Ini justru berbahaya bagi penipu. MLM abal-abal biasanya hanya akan berasalan bahwa ijin sedang diproses, ada tapi tidak bisa menunjukkan, atau dalih lain.

Kedua soal produk. Penipuan berkedok MLM seringnya memiliki produk sampah tapi mahal atau bahkan tanpa produk sama sekali. Benar-benar tidak ada barang yang dijual-belikan dan hanya produkproduk abstrak atau hanya gambar-gambar belaka. Kalaupun ada produk, sebagiannya tidak masuk akal, tak bisa diukur tingkat kelarisannya atau bahkan sebenarnya bisa didapatkan di pasaran dengan mudah, tidak ada keunikannya sama sekali. Dengan ini, aktivitas MLM gadungan ini hanya memainkan uang dan menambah korban.

Ketiga, sistem bonus yang tidak jelas dan berimbang. Bagaimanapun, MLM adalah perdagangan yang tentunya, hasilnya diperoleh dari laba penjualan. Penghitungan bonus MLM abal-abal sering tidak masuk akal jika dihubungkan dengan realita omset penjualan produk. Apalagi produk MLM tidak dijual bebas dan hanya dijual dari mulut ke mulut. Yang lebih parah adalah perusahaan MLM yang menawarkan investasi bodong dengan hitungan bonus atau pengembalian investasi yang sulit dinalar. Mereka menjanjikan keuntungan dengan prosentase yang bahkan seorang pengusaha besar atau bank sekalipun tidak mampu memberikan nilai sebesar itu.

Malangnya, sampai hari ini, masih banyak yang tertipu dengan hal ini. Disamping MLM abal-abal juga selalu berganti rupa dan sistem, orang-orang yang menginginkan penghasilan tanpa kerja juga memang akan selalu ada. Tak peduli dia artis atau bahkan sarjana, orang-orang semacam ini selalu ada.

Nah, terlepas dari halal-haram bisnis dengan sistem MLM, harus senantiasa kita camkan dalam diri bahwa kesuksesan pasti membutuhkan kesungguhan dan  kerja yang nyata. Mudah dipengaruhi oleh iming-iming bonus dan penghasilan cepat tanpa kerja hanya akan membuat kita lengah hingga mudah terpedaya. Bukankah yang membuat kita tertarik berbisnis MLM adalah aliran bonus dari downline tanpa harus berjualan? Dan apakah ini layak disebut kesuksesan? Berleha-leha menikmati hasil kerja para downline yang bersusah payah menutup poin sementara tidak ada akad dan transaksi yang sah yang menghalalkan bonus mereka mengalir ke kantong kita?

Dalam berbisnis, ada tiga hal yang harus kita perhatikan: kesesuaian dengan syariat, rasionalitas, dan keselarasan dengan hati yang manusiawi. Mengabaikan syariat akan menjerumuskan kita pada penghasilan haram, mengabaikan rasionalitas akan membuat kita mudah ditipu, dan mengabaikan hati dan perasaan akan membuat kita zhalim dan dibenci orang lain. Masih tertarik bisnis dengan MLM? []

%d bloggers like this: