Menyoal Larangan Cadar Bagi Mahasiswi Di Kampus

Menyoal Larangan Cadar Bagi Mahasiswi Di Kampus

Rektor IAIN Jember Babun Suharto pada bulan April 2017 lalu mengeluarkan surat edaran terkait dengan pencegahan paham anti-NKRI dan Pancasila di lingkungan kampus IAIN Jember. Salah satu itemnya adalah pengaturan tata cara berbusana, yang di antaranya menyangkut larangan mahasiswi mengenakan cadar saat mengikuti perkuliahan.

Menurut Wakil Rektor IAIN Jember Nur Solikin, larangan penggunaan cadar perlu diberlakukan untuk menghalau tumbuhnya paham radikal di kampus tersebut. Paham ini dinilai sangat berbahaya karena tidak mengakui NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara. (Lihat: nu.or.id, Selasa, 11 April 2017)

AURAT WANITA MENURUT MADZHAB FIKIH YANG EMPAT

Kain yang menutupi bagian kepala, rambut, dan wajah seorang wanita sudah dikenal sejak dahulu kala oleh berbagai suku bangsa dan penganut agama. Dalam tradisi kaum muslimin, kain tersebut biasa disebut cadar, burqa, atau hijab.

Secara umum, para ulama fikih klasik dan kontemporer berbeda pendapat apakah wajah itu termasuk aurat bagi wanita ataukah bukan aurat?

Imam Malik, Syafi’i, Al-Auza’i, dan Abu Tsaur berpendapat seluruh anggota badan wanita muslimah adalah aurat, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.

Imam Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Al-Muzani (salah seorang murid senior Imam Syafi’i) berpendapat seluruh anggota badan wanita muslimah adalah aurat, kecuali wajah, kedua telapak tangan, dan kedua telapak kakinya.

Imam Ahmad dalam salah satu riwayat berpendapat seluruh anggota badan wanita muslimah adalah aurat, kecuali wajahnya.

Dalam riwayat lainnya, Imam Ahmad berpendapat seluruh anggota tubuh wanita muslimah adalah aurat, termasuk wajahnya, bahkan kukunya pun tidak boleh terlihat. Pendapat ini juga dipegangi oleh ulama tabi’in, Abu Bakr bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab, 3/171-172, Al-Mughni Syarh Mukhtashar AlKhiraqi, 2/326-328, dan ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 2/242)

CADAR MENURUT MADZHAB FIKIH YANG EMPAT

Berdasarkan uraian singkat di atas, dipahami bahwa ulama tabi’in, Abu Bakr bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, wanita muslimah wajib menutup wajah mereka dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Pendapat ini pada zaman sekarang diamalkan oleh mayoritas ulama madzhab Hanbali di Arab Saudi, Kuwait, Mesir, dan negara-negara Arab lainnya.

Dalam perkembangannya, mayoritas ulama madzhab Hanafi dan Maliki juga mewajibkan wanita muslimah memakai cadar di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Khususnya jika ia adalah wanita muda, atau wanita yang cantik, di zaman maraknya kerusakan moral dan dikhawatirkan menimbulkan fitnah syahwat. Hal itu sebagaimana bisa disaksikan di Afghanistan dan Pakistan. (Lihat: Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 49/134)

Bahkan ulama madzhab Syafi’i pada periode belakangan juga menegaskan wajah wanita haram dilihat oleh laki-laki non mahram. Konskuensinya, wanita muslimah wajib memakai cadar di hadapan laki-laki non mahram. Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Abdul Hamid Asy-Syarwani dalam Hasyiyah-nya atas Tuhfatul Muhtaj bi-Syarh Al-Minhaj karya Syaikhul Islam Ibnu Hajar AlHaitami Al-Makki:

“Diharamkan memandang wajah dan kedua telapak tangan wanita merdeka, meskipun tanpa disertai syahwat. Az-Zayadi dalam Syarh Al-Muharram menyatakan, ‘Dengan kajian ini diketahui bahwa wanita memiliki tiga aurat. Pertama, aurat dalam shalat dan hal ini telah dijelaskan.

Kedua, aurat yang terkait dengan pandangan orang lain kepadanya, yaitu seluruh badannya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad (menjadi pegangan madzhab).

Ketiga, aurat saat sendirian dan ketika bersama laki-laki yang menjadi mahram, yaitu sama seperti aurat laki-laki.” (Hawasyi Tuhfat Al-Muhtaj bi-Syarh Al-Minhaj, 2/112)

CADAR DAN ISLAMOPHOBIA

Dalam kajian ilmu fikih, ada dua pendapat tentang hukum memakai cadar bagi wanita muslimah di hadapan laki-laki non-mahram. Pertama, wajib. Kedua, sunah. Dalil naqli dan ‘aqli masing-masing pendapat telah dibahas tuntas oleh para ulama fikih dalam kitabkitab mereka.

Baik dihukumi wajib maupun sunah, memakai cadar bagi wanita muslimah adalah ibadah yang akan mendapatkan pahala. Manfaatnya juga sangat jelas, yaitu menghindari fitnah syahwat di zaman kerusakan moral seperti zaman sekarang. Pemakaian cadar tidaklah mendatangkan mafsadah apapun, selain hilangnya kesempatan bagi laki-laki hidung belang untuk memuaskan nafsu syahwat matanya.

Maka, memakai cadar bagi mahasiswi muslimah di kampus adalah bagian dari hak paling asasi, yaitu hak menjalankan kewajiban agama. UUD 1945, Pancasila, dan Piagam PBB pun mengakui hak asasi tersebut.

Lalu, dari mana memakai cadar dituding sebagai anti-NKRI dan Pancasila? Jika menjalankan hak asasi dan ajaran agama dianggap radikal, bukankah itu namanya islamophobia? Wallahu a’lam.[]

%d bloggers like this: