Menikahi Wanita Hamil Karena Zina

menikahi wanita hamil akibat zina

Pergaulan di kalangan para pemuda dan pemudi di zaman sekarang semakin bebas dan sulit dikendalikan. Seolah tak ada pembatasan di antara mereka. Tidak jarang kita mendengar seorang gadis yang masih berada di bangku sekolah terpaksa harus mengakhiri masa belajarnya lantaran diketahui positif hamil. Sehingga orang tua harus menikahkan dia dengan pelaku yang menghamilinya atau orang lain untuk menutupi aib. Bagaimana penjelasan dari para ulama mengenai hukum menikahi wanita yang hamil karena zina, baik dinikahi oleh pelaku atau orang lain?

BOLEH DINIKAHI DAN DIGAULI

An-Nawawi asy-Syafi’i rahimahumullah menyatakan,

وَيَجُوْزُ نِكَاحُ الْحَامِلِ مِنَ الزِّنَا لِأَنَّ حَمْلَهَا لَا يَلْحَقُ بِأَحَدٍ فَكَانَ وُجُوْدُهُ كَعَدَمِهِ.

Diperbolehkan menikahi wanita hamil karena zina, karena kehamilannya tidak dapat disandarkan kepada siapapun sehingga keberadaan janin dianggap seolah tidak ada. (Al-Majmu’, Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 16/241)

Zakariya al-Anshari asy-Syafi’i rahimahumullah juga menyatakan,

يَجُوزُ نِكَاحُ الْحَامِلِ من الزِّنَا وَكَذَا وَطْؤُهَا

Diperbolehkan menikahi wanita hamil karena zina, dan begitu juga boleh menggaulinya. (Asna al-Mathalib fi Syarhi Raudhati ath-Thalib, Zakariya al-Anshari asy-Syafi’i, 3/393)

Boleh Dinikahi Tetapi Tidak Boleh Digauli Hingga Melahirkan

Alauddin al-Kasani al-Hanafi rahumahumullah menuturkan,

إذَا تَزَوَّجَ امْرَأَةً حَامِلًا من الزِّنَا أَنَّهُ يَجُوزُ في قَوْلِ أبي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ وَلَكِنْ لَا يَطَؤُهَا حَتَّى تَضَعَ.

Apabila engkau menikahi seorang wanita yang hamil karena zina, maka hal ini dibolehkan menurut pendapat Abu Hanifah dan Muhammad. Akan tetapi, tidak boleh menggaulinya hingga ia melahirkan.  (Badai’ ash-Shanai’ fi Tartibi asy-Syarai’, Alauddin al-Kasani, 2/269)

Qadhi Fahruddin Khan al-Hanafi rahumahumullah menyampaikan,

يَجُوْزُ نِكَاحُ الْحَامِلِ مِنَ الزِّنَا لَكِنْ لَا يُحِلُّ لِلزَّوْجِ وَطْئُهَا حَتَّى تَضَعَ حَمْلَهَا

Boleh menikahi wanita yang hamil karena zina, akan tetapi tidak dihalalkan bagi suami menggaulinya hingga ia melahirkan bayi yang ada di dalam kandungannya. (Fatawa, Qadhi Fahruddin Khan, 1/180)

TIDAK BOLEH DINIKAHI

Alauddin al-Kasani al-Hanafi rahumahumullah menuturkan,

وقال أبو يُوسُفَ لَا يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ زُفَرَ  وَجْهُ قَوْلِ أبي يُوسُفَ أَنَّ هذا الْحَمْلَ يَمْنَعُ الْوَطْءَ فَيَمْنَعُ الْعَقْدَ أَيْضًا كَالْحَمْلِ الثَّابِتِ النَّسَبِ وَهَذَا لِأَنَّ الْمَقْصُودَ من النِّكَاحِ هُوَ حِلُّ الْوَطْءِ فإذا لم يَحِلَّ له وَطْؤُهَا لم يَكُنْ النِّكَاحُ مُفِيدًا فَلَا يَجُوزُ.

Abu Yusuf dan Zufar berpendapat hal ini (menikahi wanita hamil karena zina) tidak diperbolehkan. Adapun alasan Abu Yusuf yaitu wanita yang hamil karena zina dilarang digauli (oleh suaminya), sehingga juga dilarang dinikahi sebagaimana wanita yang hamil karena nasab (bukan karena zina). Inilah sebenarnya tujuan dari pernikahan yaitu penghalalan hubungan intim, apabila hubungan intim tidak dihalalkan baginnya maka pernikahan tersebut tidak ada manfaatnya. Sehingga menikahi wanita hamil karena zina tidak diperbolehkan. (Badai’ ash-Shanai’ fi Tartibi asy-Syarai’, Alauddin al-Kasani, 2/ 270)

Di dalam al-Musu’ah al-Fiqhiyah dijelaskan,

قَالَ الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابَلَةُ وَأَبُوْ يُوْسُفُ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ لَا يَجُوْزُ نِكَاحُهَا قَبْلَ وَضْعِ الْحَمْلِ لَا مِنَ الزَّانِي نَفْسِهِ وَلَا مِنْ غَيْرِهِ وَذَلِكَ لِعُمُوْمِ قَوْلِهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ.

Para ulama mazhab Maliki, Hambali dan Abu Yusuf dari mazhab Hanafi berpendapat tidak boleh menikahi seorang wanita hamil (karena zina) hingga ia melahirkan bayinya. Baik laki-laki yang menzinainya atau laki-laki lain. Pendapat ini berdasarkan keumuman Sabda Rasulullah ﷺ, janganlah menggauli seorang wanita yang hamil hingga ia melahirkan bayinya.

Di dalam kitab tersebut juga disebutkan,

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَأَبُوْ حَنِيْفَةَ وَمُحَمَّدٌ إِلَى أَنَّهُ يَجُوْزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِنَى لِأَنَّ الْمَنْعِ مِنْ نِكَاحِ الْحَامِلِ حَمَلًا ثَابِتُ النَّسَبِ لِحُرْمَةِ مَاءِ الْوَطْءِ وَلَا حُرْمَةٌ لِمَاءِ الزِّنَى بِدَلِيْلٍ أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ بِهِ النَّسَبُ.

Para ulama mazhab Syafi’i, Abu Hanifah dan Muhammad berpendapat boleh menikahi wanita hamil karena zina. Karena larangan menikahi wanita hamil yang hamilnya karena tetapnya nasab (nasabnya jelas) disebabkan karena kesucian air mani. Dan tidak ada kesucian bagi air mani karena perzinaan dengan alasan karena tidak ada ketetapan nasab baginya. (Al-Mausu’ah al-Fikqhiyah al-Kuwaitiyah, 16/ 272-273)

 

BACA JUGA: MENIKAHKAN WANITA HAMIL AKIBA ZINA

 

Oleh: Luthfi Fathoni

%d bloggers like this: