Menikahi Anak Hasil Zina

menikahi anak hasil zina

Dosa besar yang kian marak pada saat ini adalah zina. Nikmat sesaat tapi berujung pada penyesalan. Perbuatan dosa yang berbuah bayi.

Ada yang dilahirkan tapi juga banyak yang digugurkan. Bayi tersebut tidaklah berdosa. ‘Kedua orang tuanya’ lah yang menanggung dosa. Namun demikian, status bayi tersebut memang sering diperdebatkan para Ulama.

 

BACA JUGA: MENIKAHKAN WANITA HAMIL AKIBAT ZINA

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin v mengatakan: “Anak zina diciptakan dari sperma tanpa pernikahan. Maka dia tidak dinasabkan kepada seorang pun, baik kepada lelaki yang menzinainya atau suami wanita tersebut apabila ia bersuami. Alasannya, ia tidak memiliki bapak yang syar’i (melalui pernikahan yang sah)” (Syarhul Mumti’, 4/255)

RAGAM ANAK ZINA

Apabila ditinjau dari status ibunya, anak hasil zina dapat dikategorikan menjadi dua: Pertama, Si ibu berstatus sebagai istri orang. Kedua, Si ibu tidak bersuami.

Pertama, Seorang wanita bersuami yang terbukti selingkuh (baca: berbuat zina) kemudian melahirkan anak dari hubungan haram tersebut, bila sang suami mengakui sebagai anaknya, maka dinasabkan kepada sang suami.

Apabila si Ibu dan suaminya mengakui bahwa anak itu adalah hasil perselingkuhan, maka status anak tersebut adalah anak zina. Sedangkan, bila si Ibu tidak mengakui perselingkuhan, dan sang suami juga tidak mengakui itu adalah anaknya, maka dalam Islam pasangan suami istri tersebut melakukan proses li’an. Yaitu saling melaknat, dipisahkan keduanya, dan ikatan pernikahan terputus untuk selama-lamanya.

Kedua, si Ibu bukan berstatus sebagai istri orang, (janda atau belum pernah menikah secara sah), kemudian melahirkan anak. Nasab anak itu dihubungkan ke ibunya.

Apabila lelaki yang menzinai wanita tersebut mengklaim anak tersebut adalah anaknya, maka para Ulama berbeda pendapat, ada yang boleh dinasabkan dan ada yang tidak memperbolehkan.

BOLEH MENIKAHI ANAK BIOLOGIS KARENA BUKAN NASABNYA

Para Ulama sepakat bahwa apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, lalu dia hamil dari hasil zina tersebut dan melahirkan seorang anak, maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan tidak ada hubungan nasab sama sekali antara dia dengan laki-laki yang menghamili ibunya. (Al-Majmu’ Syarah Muhadzab, Imam Nawawi, 19/48, AlMuhalla, Ibnu Hazm, 10/323)

Karena hal ini, terdapat pendapat nyleneh yang membolehkan menikahi anak perempuan hasil zina-nya. Imam Syafi’i dan Malik dalam riwayat yang masyhur dalam mazhab mereka membolehkan menikah dengan anak perempuan dari hasil zinanya. (Raudhatut Thalibin, 5/447). Hanya saja Imam Ahmad mengingkari bahwa hal ini pernah dikatakan oleh Imam Syafi’i dan Malik (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, 32/142)

TIDAK SALING MEWARISI BOLEH DINIKAHI

Menurut pendapat yang membolehkan menikahi anak biologisnya sendiri, dikarenakan anak zina tidak termasuk keumumam firman Allah subhanahu wata’ala,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ

“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…” (QS. An-Nisa’: 23) Karena anak zina tidak dinasabkan kepadanya dan juga tidak saling mewarisi.

Sehingga anak perempuan hasil zina termasuk dalam keumuman firman Allah :

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ

“Dan dihalakan bagi kalian semua selain yang demikian.” (QS. An-Nisa’: 24)

Inilah dalil yang digunakan sehingga terdapat pendapat syadz (nyleneh) yang menyelisihi jumhur Ulama.

PENDAPAT JUMHUR ULAMA

Jumhur Ulama melarang seorang laki-laki menikah dengan wanita yang merupakan anak hasil zinanya, dengan dalil yang sama yaitu firman Allah Ta’ala, yang artinya :

“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian…” (QS. An-Nisa’: 23)

Lafal “anak-anak perempuan kalian” mencakup semua anak perempuannya dan anak tersebut memang tercipta dari air maninya. (Al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah, 9/529. Bada’i ash-Shana’i, Al-Kasani 3/1385)

Walaupun tidak bernasab, tidak saling mewarisi, tapi tetap tidak boleh dinikahi. anak hasil zina tersebut adalah hasil dari air mani ayah biologisnya. Apa wajar bila menikahi anak hasil sperma sendiri?

Bahkan jumhur Ulama berselisih pendapat apabila ayah biologis—walaupun tidak dinasabkan kepadanya—menikahi anak hasil zinanya, apakah dihukum bunuh atau tidak. (Majmu’ Fatawa, 32/134)

ANAK HAKIKI DAN MAJAZI

“Dan diharamkan bagi kalian menikahi ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu…”

Ayat (QS. An-Nisa’: 23) mencakup semua yang disebut sebagai “anak wanita” baik secara hakiki maupun majazi, sama saja apakah antara keduanya terdapat hubungan saling mewarisi dan hukum-hukum nasab lainnya ataukah tidak.

Keumuman yang terdapat pada ayat An-Nisa’: 22-25, itu bukan seperti keumuman yang terdapat pada ayat warisan. Karena setiap yang tidak dinasabkan belum tentu dibolehkan untuk dinikahi. Seperti wanita sesusuan yang tidak ada hubungan warisan juga tak boleh dinikahi.

Bibi dari bapak/ibu dan cucu wanita dari anak laki-laki kadang tidak mendapat jatah warisan tapi tidak boleh dinikahi.

Kesimpulannya, tidak selayaknya seorang Muslim yang telah menzinai seorang wanita, malah menikahi anak hasil zina yang dari spermanya sendiri. Wallahu alam[-]

%d bloggers like this: