Matan Fikih Madzhab Hambali

Kitabu al-Hadi

Judul Kitab                        : Kitabu al-Hadi (‘Umdatu al-Hazim fi az-Zawaid ‘Ala Mukhtashar Abi al-Qasim)

Jilid                                       : 1; 800 halaman

Penulis                                : Al-Imam Muwafiqquddin Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi

Nama Populer                 : Ibnu Qudamah

Mazhab                               : Hanbali

Tahqiq Kitab                    : Nuruddin Thalib

Pertama Kali terbit      : 1428 H/ 2007 M

Download kitab versi pdf: https://ia800205.us.archive.org/3/items/FP118516/118516.pdf

 

Kitabu al-Hadi adalah salah satu tulisan seorang ulama besar mazhab Hanbali, beliau adalah al-Imam Muwafiqquddin Abdullah bin Ahmad bin Qudamah yang masyhur dengan Ibnu Qudamah al-Maqdisi (620 H). Salah satu kitab ringkasan/matan fikih mazhab Hanbali yang memiliki kedudukan agung serta banyak memberi manfaat bagi kaum muslimin; terutama bagi para thalibul ilmi dan pengikut mazhab Hanbali.

Kitab yang tidak lebih dari 800 halaman ini merupakan salah satu rujukan para ulama mazhab Hanbali, bahkan Syaikh Ali bin Sulaiman al-Mardawi ketika beliau menyusun kitab al-Inshaf –yang hari ini juga menjadi rujukan mazhab Hanbali—banyak menukil dan Kitabu al-Hadi ini.

Kitab ini adalah hasil ringkasan Ibnu Qudamah dari beberapa kitab ulama mazhab Hanbali sebelum beliau, paling banyak beliau meringkas dari kitab al-Hidayah yang disusun oleh Abu al-Khathab al-Kaludzani; beliau adalah murid dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Alasan kenapa Kitabu al-Hadi ini banyak diringkas dari kitab al-Hidayah adalah karena beliau ingin mempersembahkan sebuah kitab yang ringan ditelaah bagi umat dan thalibul ilmi, beliau hanya mengambil point-point penting dalam kitab al-Hidayah yang tidak disebutkan dalam kitab al-Mukhtashar karya Imam al-Khiraqi, ini salah satu keunikan metode penyusunan Ibnu Qudamah. Menurut beliau dua kitab ini sangat mendasari untuk membangun pemahaman mazhab Hanbali dengan baik.

Ibnu Qudamah juga pernah menyusun kitab berjudul Umdatul Fiqhi, kitab ini mendapat sambutan istimewa di tengah-tengah umat Islam, metode penyusunan Ibnu Qudamah terhadap kitab ini adalah dengan menyebutkan satu riwayat yang berasal dari Imam Ahmad saja, atau menyebutkan riwayat yang dinilai paling shahih menurut mazhabnya. Lain halnya dengan Kitabu al-Hadi, metode penyusunan Ibnu Qudamah adalah dengan menyebutkan beberapa riwayat yang berasal dari Imam Ahmad, para sahabat beliau dan para ulama dalam mazhabnya, maka wajar jika kitab ringkasan atau matan ini dicetak mencapai 800 halaman.

Beliau menyebutkan beberapa dalil di setiap permulaan Bab, yang dari dalil tersebut akan disebutkan cabang-cabang masalah fikih. Dengan demikian beliau telah menyajikan kitab ini dengan metode yang sangat bermanfaat; khususnya bagi para thalibul ilmi. Harapannya dengan mengetahui dalil yang kemudian disusul dengan cabang-cabang masalah fikih dapat mematangkan pemahaman mereka terhadap hukum-hukum syariat.

Ibnu Qudamah membaca kitab al-Mukhtashar yang disusun oleh Imam al-Khiraqi melalui bimbingan Syaikhnya, Abdul Qadil al-Jailani, yang kemudian beliau mensyarah kitab tersebut dan lahirlah kitab beliau yang berjudul al-Mughni. Para ulama telah mengakui kualitas dan keistimewaan kitab al-Mughni, hingga hari ini kitab tersebut terus menjadi teman setia bagi kaum muslimin dalam membimbing mereka kepada hukum-hukum fikih ulama salaf.

Semoga Allah merahmati beliau, Ibnu Qudamah, yang telah mencurahkan seluruh kemampuannya untuk mengabdikan dirinya kepada mazhab ahlu sunnah Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Kitab-kitab yang telah beliau tulis dengan tangannya sendiri, atau kitab-kitab yang disusun oleh murid-murid beliau sampai hari ini masih banyak memberi faedah dan hampir semuanya menjadi kitab rujukan dalam mazhab Hanbali.

Seperti kitab fikih yang lain, Kitabu al-Hadi di awali dengan pembahasan Taharah, Shalat, Jenazah, Zakat, Puasa dan seterusnya yang kemudian ditutup dengan pembahasan Warisan.

Selain telah dicetak dengan rapi, mudah ditelaah, mudah didapatkan, kitab ini juga telah ditahqiq oleh Nuruddin Thalib. Di antara upaya penahqiqan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

– Mengoreksi kesalahan tulisan kemudian membenarkannya dengan mencocokkan antara manuskrip yang asli dengan maksud yang diinginkan penulis.

– Memberi harakat pada nash-nash al-Qur’an dan al-hadits dan beberapa ucapan para ulama, tujuannya untuk memudahkan pembaca.

– Mentakhrij hadits dan atsar yang disebutkan dalam nash, yaitu dengan menyebutkan perawi hadits, nomor, dan merujuk pada kitab induknya. Wallahu a’lam. [.]

** Di sarikan dari kitab Kitabu al-Hadi (‘Umdatu al-Hazim fi az-Zawaid ‘Ala Mukhtashar Abi al-Qasim), karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi, hal. 1-34 dengan perubahan dan tambahan.

%d bloggers like this: