Manipulasi Timbangan, Kebiasaan Kaum yang Disambar Petir

Manipulasi Timbangan, Kebiasaan Kaum yang Disambar Petir

Manipulasi timbangan dilakukan pedagang untuk mendapatkan keuntungan lebih. Barang yang dibayar senilai 1 kg, misalnya, tapi yang diterima pembeli tidak genap 1 kg. Kejahatan inilah yang membuat kaum Madyan, kaum Nabi Syu’aib, diadzab begitu keras, sekian abad lalu.

Kejahatan serupa juga dilakukan penduduk Yatsrib atau Madinah sebelum Rasulullah berhijrah. Orang-orang Madinah terkenal kacau dalam hal menimbang dan menakar. Kejahatan ini akhirnya hilang setelah turunya peringatan dan ancaman laknat dari Allah yang tertera dalam wahyu surat al-Muthaffifin ayat 1-5. Setelah turunnya wahyu ini, muslimin Madinah memperbaiki timbangan dan takaran mereka.

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘Celakalah al-Muthaffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbaiki takaran mereka.” (HR. An-Nasai, hadits hasan)

Meski hilang dari kebiasaan penduduk Madinah saat itu, bukan berarti kejahatan ini sirna sama sekali. Manipulasi timbangan akan kembali dilakukan bahkan sampai pada level parah oleh oknum-oknum pedagang curang. Pasar-pasar yang kendor pengawasan akan menjadi habitat yang kondusif bagi pedagang-pedagang curang ini.

Di negeri ini, Indonesia, sebenarnya telah ada undang-undang khusus yang mengatur timbangan. Dalam Undang-undang Republik Indonesia no. 2 Th. 1981 tentang Metrologi Legal disebutkan bahwa untuk melindungi kepentingan umum dalam kebenaran timbangan, timbangan perlu ditera ulang. Tera ulang adalah pengukuran dan penandaan ulang dengan satuan ukur yang berlaku. Adapun pelaksanaanya diserahkan kepada kebijkan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Dalam Peraturan menteri Perdagangantahun 2009, tera ulang dilakukan minimal 2 tahun sekali.

Sebagai bentuk kontrol, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) daerah juga melakukan sidak (inspeksi mendadak) di pasar-pasar. Semua jenis timbangan, termasuk timbangan emas dan elektronik tak luput dari pengecekan. Timbangan yang tidak memenuhi standar akan disita dan yang telah kadaluarsa masa tera ulangnya diharuskan melakukan tera ulang. Pedagang juga dihimbau agar melakukan kalibrasi timbangan ke dinas perdagangan.

Namun demikian, bukan berarti praktek curang dalam timbangan dapat benar-benar tertanggulangi. Masih ada oknum pedagang yang tetap melakukan kecurangan dan mengganti timbangan saat ada sidak dari Disperindag. Pasar atau toko yang jarang disidak menjadi lahan subur praktek kecurangan yang merugikan pembeli ini.

Ada berbagai macam cara untuk memanipulasi timbangan. Untuk timbangan bebek, ada yang menggunakan magnet sebagai penambah berat pada piringan barang. Berat barang yang seharusnya 1 kg misalnya, menjadi berkurang meski saat ditimbang terlihat pas 1 kg. Ada juga yang dengan cepat memasukkan barang ke dalam plastik sebelum timbangan benar-benar pas.

Timbangan duduk juga mudah dimodifikasi dengan mengubah atau mengganti pegasnya. Saat digunakan menimbang, angka yang ditunjuk jarum lebih besar daripada berat asli barang. Timbangan digital pun dapat disetting agar berat barang terlihat pas padahal sebenarnya kurang.

Juni lalu, Dinas Perdagangan Samarinda melakukan sidak ke pasar Sungai Dama, Samarinda Ilir. Hasilnya, dari 120 timbangan 20% di antaranya sudah rusak atau tidak layak pakai. (http://www.beritalima.com). Beberapa bulan lalu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) juga berencana menyita timbangan duduk plastik karena dianggap tidak standar. Ditemukan sekitar 100 pedagang masih menggunakan timbangan plastik ini padahal sebelumnya telah diperingatkan, (bangkanews.com).

Manipulasi timbangan memang fenomena yang biasa ditemukan dalam jual-beli. Praktik mencuri untung secara curang ini paling banyak dilakukan pedagang nakal karena minim resiko. Dibandingkan dengan jenis kecurangan lain seperi menipu pembeli dengan daging tiren atau bahan palsu/ kualitas rendah, resiko manipulasi timbangan sedikit lebih ringan dan mudah disembunyikan. Asalkan selisih berat tidak terlalu kentara, pembeli tidak akan curiga. Sedikit demi sedikit, lama-lama untung akan tetap banyak.

Meskipun kerugian yang menimpa pembeli relatif sedikit, tapi larangan syariat cukup keras. Kaum Tsamud diadzab dengan guntur yang menyambar dan menewaskan mereka dalam sekejap.

Dan Syu’aib berkata, “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. Sisa keuntungan dari Allâh adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu!” (Hud: 84-86)

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. (Hud: 95)

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (al-A’raf: 91).

Umat ini diancam dengan wail. Ibnu Abbas menjelaskan, “Itu adalah satu jurang di Jahannam, tempat berkumpulnya aliran nanah para penghuni neraka.” (al-Jami li Ahkamil Quran IXX/219).

Syaikh as-Sa’di bahkan mengaitkan perbuatan ini dengan hilangnya iman kepada akhirat. Orang yang melakukan kecurangan tidak takut akan penghitungan amal di akhirat. Andai dia takut dan yakin, tentu dia melakukan hal seburuk itu.

Kerugian pembeli memang sedikit, jika dihitung perorang. Tapi jika dihitung akumulatif tentu akan banyak. Apalagi jika satu pasar pedagang banyak yang curang. Bagi penjual, keuntungan haram yang dimakan pun menjadi banyak. Lebih dari itu, karakter buruk sebagai penipu akan memengaruhi hal lain. Jika dalam timbangan ia berani menipu, dalam hal lain ia juga akan menipu, berkhianat dan berdusta. Efeknya bisa panjang.

Yang menarik, Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa mengurangi timbangan substansinya adalah mengurangi hak orang lain dan menuntut hak diri sendiri secara lebih. Artinya, ayat ini juga menjadi peringatan bagi siapapun yang melakukan hal-hal yang secara substansi sama dengan mengurangi timbangan. Misalnya seorang suami yang tidak memenuhi hak istri tapi giliran haknya atas istri, ia menuntut sempurna. Demikian pula pegawai yang mengurangi jatah waktu kerja dengan datang telat atau pulang terlambat dapat.

Nasihat Nabi Syu’aib sudah sangat baik, baqiyatullahi khoirun (sisa keuntungan dari Allâh itu lebih baik)” daripada keuntungan yang diperoleh dari mengakali timbangan. Selain tidak halal, hal tersebut juga akan membuat pembeli kapok jika tahu bahwa pedagang melakukan kecurangan.

baca juga: Sembunyikan Aib Barang, Berkah Hilang

Bagi pembeli, apabila kita curiga dengan hasil timbangan, kita dapat melakukan rechek. Caranya bisa dengan menimbang ulang barang yang telah dibeli. Meskipun mungkin kita tidak bisa komplain ataupun mengembalikan barang yang telah dibeli, paling tidak kita bisa menandai penjual-penjual yang curang. Wallahua’lam. []

 

 

Realita: aviv

%d bloggers like this: