Larangan Ketika Junub, Haid,dan Nifas

لاَ تَقْرَأِ الحَائِضُ، وَلاَ الجُنُبُ شَيْئًا مِنَ القُرْآنِ

Orang yang sedang haid dan junub tidak boleh membaca al-Qur’an sedikitpun. (HR. At-Tirmidzi)

Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang suci. Baik suci jasmani atau rohani. Akan tetapi, dalam beberapa kondisi tertentu seseorang berada dalam kondisi tidak suci yaitu ketika junub, haid atau nifas.

Dalam kondisi tidak suci seseorang tidak dibolehkan melaksanakan beberapa amalan ibadah. Amalan apa sajakah yang tidak boleh dikerjakan oleh seseorang yang tidak suci? Mari kita simak tulisan di bawah ini.

TIDAK BOLEH SHALAT

Shalat adalah amalan yang sangat agung. Bahkan titah dari Allah ini disampaikan secara langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ tanpa perantara malaikat jibril.

Begitu agung dan pentingnya amalan ini, maka bagi siapa saja yang hendak melaksanakannya harus dalam kondisi suci. Suci yang dimaksud adalah suci dari hadats dan najis, baik hadats kecil atapun hadats besar. Dasar hukumnya firman Allah Ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah” (QS. Al-Maidah: 6)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah tidak menerima shalat seseorang yang tidak dalam kondisi suci.” (HR. Muslim)

Dari dalil-dalil di atas dan beberapa dalil lain, para ulama telah sepakat bahwa dilarang melaksanakan shalat bagi orang yang dalam kondisi tidak suci.

Bahkan seseorang yang mengetahui bahwa dirinya dalam kondisi tidak suci baik karena junub, haid atau nifas, dan ia tetap melaksanakan shalat padahal ia sanggup bersuci. Maka shalat yang dikerjakan tidak sah, dan bukan pahala yang diperoleh, justru dosa yang akan didapatkannya. Ia mendapatkan dosa lantaran melanggar aturan Allah subhanahu wata’ala. (Al-Mulakhas al-Fiqhi, Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, 26)

THAWAF DI BAITUL HARAM

Salah satu amalan yang harus dikerjakan oleh seorang Muslim ketika melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah thawaf di baitul haram. Thawaf yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali.

Thawaf merupakan ibadah yang pelaksanaannya harus dalam kondisi suci, baik suci dari hadats kecil atapun hadats besar. Dasar hukumya adalah hadits Rasulullah ﷺ, “Thawaf di baitul haram adalah shalat, hanya saja Allah membolehkan berbicara di dalamnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain, riwayat al-Bukhari dan Muslim juga disebutkan bahwa beliau n berwudhu untuk melaksanakan thawaf. Bahkan Beliau secara jelas melarang wanita haid melaksanakan thawaf.

Ketika Aisyah haid saat haji, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari dalil-dalil di atas, maka thawaf tidak boleh dikerjakan kecuali dalam kondisi suci.

MENYENTUH DAN MEMBAWA MUSHAF AL-QUR’AN

Mushaf al-Qur’an adalah kumpulan-kumpulan dari firman Allah Ta’ala yang diwahyukan kepada Rasul utusan-Nya yaitu Muhammad ﷺ. Karena mushaf al-Qur’an berisikan firman-firman Allah, maka tidak sembarang orang diperbolehkan memegangnya.

Baginda Nabi ﷺ telah memberitahukan kepada kita siapa saja yang tidak diperbolehkan memegang mushaf al-Qur’an. sehingga haram hukumnya memegang mushaf bagi mereka.

Di antara orang-orang yang dilarang memegang mushaf al-Qur’an oleh Beliau n adalah orang-orang yang sedang dalam kondisi berhadats baik hadats besar ataupun hadats kecil.

Larangan ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Dari ayat di atas para ulama menjelaskan bahwa tidak boleh menyentuh mushaf al-Qur’an bagi mereka yang berhadats, baik hadats besar ataupun hadats kecil. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam buku tafsirnya.  (Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir, 4/ 359)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya mengenai hukum menyentuh al-Qur’an dalam kondisi tidak suci. Beliaupun menjawab,

“Menurut jumhur para ulama, tidak boleh bagi seorang muslim menyentuh mushaf (al-Quran) jika ia tidak berwudhu. Pendapat ini juga merupakan pendapat empat Imam madzhab dan jawaban ini seperti apa yang difatwakan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ. Pendapat ini berdasarkan hadits Amr bin Hazm bahwasanya Nabi ﷺ pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman,

Hendaklah seseorang tidak menyentuh Al-Quran kecuali dalam kondisi suci.”

Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa tidak boleh bagi seorang muslim menyentuh al-Quran kecuali ia dalam kondisi suci dari dua hadats; hadats besar; dan hadats kecil. Demikian juga dengan memindahkan al-Quran dari satu tempat ke tempat yang lain dalam kondisi tidak suci.

Akan tetapi, apabila seseorang menyentuh dan memindahkan al-Quran dengan menggunakan sesuatu, seperti pembungkus dan pembalut, maka tidak mengapa. Adapun menyentuhnya secara langsung sedang dia tidak dalam kondisi suci, maka hal itu yang tidak dibolehkan menurut pendapat yang benar.” (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 4/383)

MEMBACA AL-QUR’AN

Membaca al-Qur’an merupakan salah satu bentuk ibadah dan taqarrub kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Tilawah al-Qur’an termasuk dzikir kepada Allah n. Dengan tilawah al-Qur’an hati seseorang akan menjadi lembut.

Akan tetapi, tidak dalam segala kondisi seorang Muslim boleh membaca al-Qur’an. Ada beberapa kondisi seorang muslim tidak boleh membaca al-Qur’an. Di antaranya,

Junub, dalam kondisi seperti ini seorang Muslim di larang membaca al-Qur’an, baik dilakukan dengan melihat mushaf atau tanpa melihat mushaf. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipilih oleh mayoritas para ulama. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits dari Ali bin Abi Thalib z,

Tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya dari membaca Al-Quran selain junub.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sesungguhnya empat imam mazhab sepakat atas dilarangnya hal itu (orang junub baca al-Qur’an),” (Majmu’ Fatawa, Ahmad bin Taimiyah al-Harrani, 21/344)

Haid dan nifas, dalam permasalahan wanita haid atau nifas membaca al-Qur’an, para ulama berbeda pendapat.

Pendapat pertama, tidak boleh bagi wanita yang sedang haid atau nifas membaca al-Qur’an. Ini adalah pendapat para ulama dari mazhab Hanafi, Syafi’i, Hambali. Pendapat mereka disandarkan ke beberapa hadits. Di antaranya, “Orang yang sedang haid dan junub tidak boleh membaca al-Qur’an sedikitpun.” (HR. At-Tirmidzi)

Pendapat kedua, wanita yang sedang haid atau nifas boleh membaca al-Qur’an. ini adalah pendapat dari mazhab Maliki. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 33/59)

BERDIAM DIRI DI MASJID

Wanita yang junub, haid, dan nifas tidak diperbolehkan berdiam diri di masjid.

Larangan ini berlaku bagi yang belum berwudhu ataupun sudah. Artinya larangan berdiam diri di masjid bagi junub, haid dan nifas sifatnya mutlak. Akan tetapi, bagi mereka yang sekedar lewat baik ada keperluan atau tidak, maka dibolehkan. Ini merupakan pendapat dari mazhab Syafi’i dan Maliki.

BACA JUGA: Berada di Masjid Saat Kondisi Haid, Nifas atau Junub

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh melewati masjid kecuali dalam kondisi bersih dan telah berwudhu.

Imam Ahmad memiliki pendapat yang berbeda dengan mayoritas ulama di atas. Beliau berpendapat bahwa bagi orang junub, haid dan nifas boleh berdiam diri di masjid manakala telah berwudhu.

Beliau juga berpendapat bahwa melewati masjid bagi yang memiliki keperluan dibolehkan. Akan tetapi, bagi yang tidak memiliki keperluan tidak dibolehkan. (Al-Majmu’, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, 2/ 160) [-]

 

 

oleh: Luthfi Fathoni

 

%d bloggers like this: