Kitab Mukhtashar, tapi 10 Jilid

Al-Mukhtashar Al-Fiqhi

Judul                                                     : Al-Mukhtashar Al-Fiqhi

Jilid                                                       : 10 (jilid)

Penulis                                                : Muhammad bin ‘Arafah al-Waraghmi at-Tunisi

Nama Populer penulis                   : Ibnu ‘Arafah

Mazhab                                                : Maliki

Tahqiq Kitab                                      : DR. Hafizh Abdurrahman Muhammad Khair

Pertama kali terbit                         : 1435 H /2014 M

Download Kitab Versi PDF         : http://waqfeya.com/book.php?bid=10763

 

Al-Mukhatashar al-Fiqhi adalah kitab fikih bermazhab Maliki yang ditulis oleh Ibnu ‘Arafah, sebuah kitab fikih yang disusun dalam jilid yang besar. Ibnu ‘Arafah adalah salah seorang ulama berasal dari Tunisia, nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad bin ‘Arafah al-Waraghmi, dikenal dengan kuniyah Ibnu ‘Arafah.

Ibnu ‘Arafah adalah seorang ulama yang memiliki peran besar dalam mazhab Maliki, hal itu dilihat dari kiprahnya di dunia dakwah, majelis ilmu, dan beliau telah menulis lebih dari 11 kitab bermazhab Maliki, di antara kitab beliau yang paling terkenal adalah kitab al-Mukhtashar al-Fiqhi ini.

Al-Mukhtashar al-Fiqhi adalah kitab yang disusun dengan metode unik, yaitu dengan metode ikhtishar (peringkasan), namun penyusunan dengan metode ini bukan malah membuat buku yang disusun menjadi tipis, justru menjadi buku tebal yang terdiri dari 10 jilid. Lantas metode ikhtishar seperti apakah yang digunakan oleh Ibnu ‘Arafah?

Sebenarnya, metode ikhtishar sudah banyak dilakukan oleh ulama-ulama Malikiyah sebelum Ibnu ‘Arafah, Ibnu Syaas telah menerapkan metode tersebut di dalam kitab al-Jawahir ats-Tsamaniyah, Ibnu al-Hajib juga menerapkan metode ikhtishar dalam kitab Jami’u al-Ummahat dan selain mereka berdua masih ada lagi. Akan tetapi metode ini belum banyak digemari oleh ulama mazhab Maliki pada umumnya.

Sampai akhirnya datanglah Imam al-Ghazali dengan kitab al-Wajiz yang beliau susun dengan metode ikhtishar. Imam al-Ghazali melihat bahwa kitab-kitab para Ulama Fikih pada zamannya banyak ditulis secara panjang-lebar dan banyak memaparkan perdebatan, sehingga beberapa kandungan inti dari kitab tersebut hilang dan tidak didapatkan oleh pembaca, yang diinginkan oleh pembaca adalah pendapat-pendapat yang rajih dari para ulama, akhirnya beliau menulis kitab al-Wajiz yang itu merupakan ringkasan dari fikih mazhab Syafi’i.

Dari Imam al-Ghazali lah para ulama mazhab Maliki mulai tergugah dengan metode ikhtishar, sebab metode ini cukup tepat untuk menjawab pertanyaan dan kebutuhan umat dalam mengetahui hukum-hukum fikih sekaligus memudahkan mereka.

Akan tetapi, sebagian ulama yang lain tidak sependapat dengan metode ikhtishar Imam al-Ghazali, menurut mereka justru banyak menghilangkan bagian-bagian penting dalam fikih yang itu adalah ranah untuk berpendapat dan berijtihad. Ibnu Rusyd salah satunya, seorang ulama mazhab Maliki yang tidak sependapat dengan metode Imam al-Ghazali, oleh Ibnu ‘Asyur dikatakan bahwa karya Ibnu Rusyd yang berjudul Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid adalah bantahan terhadap kitab al-Wajiz karya Imam al-Ghazali.

BACA JUGA: KAMUS FIKIH PARA SALAF

Kemudian Ibnu ‘Arafah mengambil jalan tengah dari metode ikhtishar yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali dan metode penulisan Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayatul Mujtahid, sehingga kendati kitab ini disusun dengan metode ikhtishar, namun pemaparannya berbeda dengan kitab-kitab ikhtishar lainnya.

Asas metode penulisan kitab al-Mukhtashar al-Fiqhi adalah menyebutkan secara panjang lebar pendapat-pendapat para ulama, terkhusus dari kalangan mazhabnya, bahkan Ibnu ‘Arafah juga menyebutkan pendapat yang matruk, marjuh dan dha’if dengan memberikan keterangan terhadapnya.

Ibnu ‘Arafah menyebutkan dengan tegas pendapat-pendapat yang dinilai rajih, atau pendapat yang menjadi fatwa ulama mazhabnya, meskipun pembaca juga akan leluasa mendapati pemaparan pendapat-pendapat yang tidak rajih bahkan pendapat yang dha’if.

Salah satu etika dalam mazhab Maliki adalah tidak menyebutkan fatwa yang dha’if, namun dalam kitab ini beliau tetap menyebutkannya, karena menimbang adanya banyak faedah dari penyebutan fatwa-fatwa dha’if tersebut. Syaikh ash-Syawi menyebutkan setidaknya ada tiga faedah, yaitu: memperluas wawasan, mengetahui tingkat pemahaman, dan dapat diamalkan untuk dirinya sendiri ketika ia mendapati kondisi yang darurat.

Di atas adalah metode secara umum yang digunakan oleh Ibnu ‘Arafah dalam menyusun al-Mukhtashar-nya, adapun secara detail metode beliau adalah: mengumpulkan seluruh pendapat ulama mazhab (tidak terpaku menyebutkan pendapat mazhab Maliki saja), merujukkan pendapat tersebut kepada pemiliknya, menyebutkan definisi dan penjelasan terhadap kaidah maupun istilah fikih dengan panjang dan lebar, mentarjih pendapat dan menjelaskan pendapat para mujtahid yang dinilai salah oleh beliau, memaparkan dalil dan hujjah pada setiap permasalahan, pentarjihan dalam kitab ini mengacu pada kitab al-Mudawwanah; dan inilah yang menjadi ushul mazhab Maliki, menjelaskan pendapat rajih dari mazhab-mazhab fikih yang lain, dan masih banyak metode lainnya yang menjadikan kitab ini lebih lengkap dan sempurna. Wallahu a’lam. []

** Disarikan dari mukaddimah kitab al-Mukhtashar al-Fiqhi karya Muhammad bin ‘Arafah al-Waraghmi at-Tunisi, hal. 1-58.

%d bloggers like this: