Kitab Fikih Ringkas dengan Sistematika Unik

Kitab Fikih Ringkas dengan Sistematika Unik

Kitab  :  Al-Wajiz fi Fiqhi as-Sunnah wal Kitab al-Aziz

Karya  :  Abdul Azhim al-Badawi

Al-Wajiz fi Fiqhi as-Sunnah wal Kitab al-Aziz, ditulis oleh DR. Abdul Azhim Badawi. Beliau adalah seorang ulama dari Mesir yang telah menulis 20 kitab lebih untuk menebar dakwahnya ke seluruh penjuru dunia.

Kitab yang paling terkenal adalah kitab al-Wajiz fi Fiqhi as-Sunnah wal Kitab al-Aziz. Kitab ini disusun dalam satu jilid yang terdiri dari 527 halaman, namun demikian kitab ini mendapat apresiasi mengagumkan di kalangan para ulama dan masyayikh.

Penulis menyampaikan ilmunya dengan bahasa yang lugas dan singkat dengan tidak mengabaikan dalil serta pendapat-pendapat para ulama. Dengan demikian buku ini sangat praktis dalam menuntun seseorang untuk ber-Islam dengan benar, terutama dalam masalah fikih.

BACA JUGA: REFRENSU UTAMA FIKI MADZAH SYAFI’I

Di antara keunggulan kitab ini adalah disertakannya takhrij pada hadits-hadits yang disebutkan oleh penulis. Pembaca akan sangat mudah mengetahui status hadits yang ada di dalam kitab ini, apakah tergolong hadits yang shahih, hasan, atau justru tergolong hadits yang dha’if.

Kitab ini terdiri dari 16 bab, yaitu: bab taharah, shalat, puasa, zakat, haji, nikah, jual-beli, sumpah, makanan, wasiat, perwarisan, hudud, jinayat, peradilan, jihad dan ditutup dengan bab pembebasan budak.

Di sinilah salah satu keunggulan kitab ini daripada kitab-kitab fikih yang lain. Penulis sengaja menyusun kitab ini dengan urutan bab seperti di atas, memang tidak selazimnya para penyusun buku fikih pada umumnya, namun di balik penyusunan bab tersebut penulis menyimpan makna tersendiri, demikian itu telah penulis paparkan secara panjang lebar di dalam mukadimahnya.

Berikut ini adalah penjelsannya

Sesungguhnya tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya adalah agar mereka beribadah kepada Allah yang Maha Esa, shalat adalah salah satu pangkal seluruh ibadah yang Allah wajibkan, shalat adalah tiang agama, shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab oleh Allah Ta’ala, sehingga penulis meletakkan bab shalat di bagian awal kitab ini.

Oleh karena salah satu syarat sahnya shalat adalah dengan bersuci maka penulis meletakkan bab taharah sebelum bab shalat. Sebagaimana dalam sebuah kaidah disebutkan, “Syarat didahulukan sebelum yang disyaratkan.”
Tentang peletakan bab puasa, maka sesungguhnya puasa adalah ibadah yang diperuntukkan kepada Allah dan Allah akan mengganjar orang yang melakukannya. Puasa memiliki nilai istimewa di sisi Allah Ta’ala, oleh karena itu penulis meletakkannya setelah bab shalat dan sebelum bab zakat.

Alasan penulis meletakkan bab puasa sebelum bab zakat adalah untuk mendahulukan ibadah badaniyah (yang banyak melibatkan anggota tubuh) daripada ibadah maliyah (yang banyak melibatkan harta). Ibadah puasa dinilai sebagai ibadah badaniyah dan ibadah zakat dinilai sebagai ibadah maliyah. Setelah bab zakat penulis menyusun bab haji, karena ibadah haji adalah ibadah yang melibatkan badan sekaligus melibatkan harta. Di sinilah tersusun secara berurutan, ibadah yang melibatkan badan, ibadah yang melibatkan harta dan ibadah yang melibatkan keduanya.

Kemudian penulis menyusun bab pernikahan, karena dengan pernikahan lahirlah dua hamba yang beribadah kepada Allah, sehingga penulis meletakkan bab pernikahan setelah bab-bab tentang ibadah. Setelah itu bab jual beli terletak setelah bab pernikahan, karena setelah melakukan pernikahan pada umumnya orang akan melakukan akad jual beli untuk kesejahteraan kehidupan mereka. Di tengah-tengah aktivitas jual beli tersebut akan banyak bersumpah atau berjanji, sehingga penulis meletakkan bab sumpah setelah bab jual beli.

Setelah itu diikuti dengan bab tentang makanan, wasiat, perwarisan, hudud dan jinayat. Oleh karena banyak terjadi persengketaan dalam masalah perwarisan, hudud dan jinayat maka disusunlah bab tentang peradilan. Seorang muslim dapat mendatangi hakim untuk meminta peradilan dari persengketaan yang terjadi.

Setelah menyebutkan bab-bab di atas maka penulis ingin mengajak kaum muslimin untuk memahami hakekat dakwah dan menyeru kepada Allah Ta’ala. Dengan mengajarkan agama Islam ke seluruh belahan bumi dan berjihad di jalan Allah. Inilah alasannya kenapa penulis menyusun bab jihad di penghujung kitab.

Dengan adanya jihad yang dilakukan oleh kaum muslimin maka tidak menutup kemungkinan akan ada tawanan atau perbudakan, sehingga penulis menutup kitab ini dengan bab pembebasan budak. Demikianlah keunikan penyusunan bab dalam kitab ini. Wallahu a’lam. []

 

Disarikan dari pendahuluan kitab al-Wajiz fi Fiqhi as-Sunnah wal Kitab al-Aziz, karya Abdul Azhim alBadawi, cet. Ketiga (2001), Dar Ibnu Rajab, halaman 1-18)

%d bloggers like this: