Kamus Fikih Para Salaf

Mu’jamul Fiqhi as-Salaf

Kitab : Mu’jamul Fiqhi as-Salaf (‘Itratan wa Shahabatan wa Tabi’in)

Karya : Muhammad al-Muntashir Billah al-Katani

Kitab Mu’jamul Fiqhi as-Salaf ‘Itratan wa Shahabatan wa Tabi’in adalah kitab fikih yang disusun oleh seorang ulama muta’akhirin bernama Muhammad al-Muntashir Billah al-Katani (1332 H-1419 H), kitab ini disusun selayaknya kamus.

Beliau adalah seorang ulama muhaddits di al-Haramain, seorang Da’i, pengajar dan banyak menulis kitab dalam ragam disiplin ilmu, tercatat lebih dari 22 kitab yang telah beliau susun.
Penulis menyampaikan dalam mukaddimah kitab ini, bahwa sampai akhir abad ke-13 belum ada seorang ulama pun yang menyusun kitab fikih berdasarkan al-ma’ajim (perkamusan), baik kitab fikih tematik maupun kitab fikih secara umum.

Beliau adalah seorang Dosen kejurusan Ilmu Tafsir, Hadits dan Fikih Muqarin (perbandingan) di salah satu Universitas Damaskus. Kemudian beliau menyusun kitab Mu’jam Fikih Ibnu Hazm adz-Dzahiri dengan dukungan beberapa pihak yang akhirnya kitab tersebut dicetak dan dibukukan.

Penyusunan beliau ini mendapat sanjungan hangat oleh Syaikh Mushthafa az-Zarqa, bahkan beliau bersedia memberikan mukaddimah dalam kitab tersebut, dan beliau juga mendapat sanjungan dari Masyayikh lainnya.
Setelah itu, barulah murid dan sahabat-sahabat beliau menyusun kitab Mu’jam Fikih, di antaranya adalah kitab Mu’jam Fikih Ibrahim an-Nakhai, Mu’jam Fikih Abdullah bin Mas’ud, Mu’jam Fikih Umar bin Khathab, Mu’jam Fikih al-Auza’i dan lain sebagainya.

BACA JUGA:  Kitab Fikih Perbandingan Antara Mazhab Hanafi dan Syafi’i

Kitab Mu’jamul Fiqhi as-Salaf ini disusun berdasarkan kitab al-Muhalla milik Ibnu Hazm rahimahullah. Hanya saja, pendapat dan riwayat yang disebutkan dalam kitab ini dirujukkan kepada enam kitab para ulama yang masyhur, yaitu al-Majmu’ karya Imam anNawawi, al-Mughni karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Subulus Salam karya Imam ash-Shan’ani, Nailul Authar karya Imam asy-Syaukani, Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan kitab al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an karya Imam al-Qurthubi. Sehingga di akhir setiap pembahasan pembaca dimanjakan dengan referensi dari kitabkitab tersebut.

Dalam penyusunannya, penulis menyebutkan satu kata pokok dalam fikih yang akan bercabang dengan berbagai persoalan terkait kata tersebut. Contohnya, penulis menyebutkan kata pokok “pernikahan”, kemudian penulis akan menyebutkan cabang-cabang persoalan fikih seputar pernikahan, di dalam jilid ke-3 penulis menyebutkan 38 persoalan fikih seputar pernikahan. Contoh yang lain, penulis menyebutkan kata pokok berupa “perceraian”, maka penulis akan menyebutkan cabang persoalan fikih seputar perceraian dan dalam kitab ini penulis menyebutkan kurang-lebih 96 kata pokok dalam fikih.

Kitab ini dicetak pertama kali pada tahun 1405 H dalam 9 jilid, 8 jilid pertama berisi tentang persoalan fikih dan jilid terakhir berisi tentang biografi serta daftar isi. Kemudian pada cetakan kedua ini dicetak menjadi 4 jilid, 3 jilid pertama tentang persoalan fikih dan jilid terakhir tentang daftar isi. Dalam jilid terakhir terdiri dari beberapa daftar, di antaranya daftar ayat al-Qur’an, hadits nabawiyah, kata-kata pokok dalam fikih, nama-nama sahabat, nama-nama tabi’in, nama-nama para Ulama Fikih dari kalangan tabi’ut tabi’in dan yang terakhir adalah daftar utama kitab Mu’jamu Fiqhi as-Salaf.

Upaya yang dilakukan dalam cetakan kedua ini tentunya memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang ada di dalam cetakan pertama. Di antara yang dilakukan untuk perbaikan adalah memperbaiki kalimat yang salah dari penulis dan merapikan penomoran setiap masalah dalam kitab ini.

Hal menarik yang akan pertama kali ditemui ketika membaca judul kitab ini adalah langsung mengetahui apa isinya dan muatan kitab ini. Di bawah ini adalah penjelasannya:

Pertama adalah lafal Mu’jam yang artinya kamus, menandakan kitab ini disusun selayaknya kamus-kamus yang ada. Lafal kedua adalah Fiqhi, yang maknanya kitab ini bukan kamus biasa, tetapi kamus tentang hukum-hukum fikih. Setelah lafal Fiqhi diikuti dengan lafal as-Salaf, menandakan fikih yang akan diuraikan dalam kamus ini adalah fikih para ulama salaf, bukan fikih ulama khalaf.

Lantas dari kalangan siapakah para ulama salaf yang dimaksud oleh penulis? Dan telah dijawab pada judul selanjutnya, yaitu lafal ‘Itratan wa Shahabatan wa Tabi’in, artinya mereka adalah ulama salaf dari kalangan sahabat yang meliputi seluruh sahabat Rasulullah secara umum, kemudian ulama salaf dari kalangan Tabiin dan Tabi’iyat. Sedangkan lafal ‘Itratan dalam judul kitab ini maksudnya adalah fikih yang berkaitan persoalan ibu dan bapak, yaitu fikih tentang kehamilan, penyusuan, penyapihan, pengasuhan dan lain sebagainya. Wallahu a’lam. []

 

Disarikan dari mukadimah kitab Mu’jamul Fiqhi asSalaf ‘Itratan wa Shahabatan wa Tabi’in, Muhammad al-Muntashir Billah al-Katani, juz 1, hal. 23-1.

%d bloggers like this: