Jauhi Dosa Besar, Dosa Kecil Terampuni

dosa besar

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالصِّدِيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Ikwani fiddin arsyadakumullah

Saya wasiatkan kepada diri saya dan kepada saudara-saudaraku se-Iman, se-Islam dan se-Ahlusunnah wal Jama’ah. Marilah bersama-sama kita mengisi sisa-sisa usia kita dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Antara lain dengan berusaha menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala. Karena Allah subhanahu wata’ala telah menjanjikan menjanjikan kepada siapa saja yang mau menjauhi dosa-dosa besar, Allah akan menutupi dosa-dosa kecil yang dilakukan dan menempatkan di tempat yang mulia yaitu Jannah Allah subhanahu wata’ala yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Keterangan ini bisa kita baca di dalam surat an-Nisa’ ayat 31,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kalian mau menjauhi dosa-dosa besar yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus dosa-dosamu yang kecil dan Kami masukkan ke tempat yang mulia.”

Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala menggunakan kata “mau” maknanya Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kepada kita kemampuan, tinggal kita semua mau atau tidak meninggalkan dosa-dosa besar tadi. Semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Imam al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan ada 70 macam dosa besar. Jumlah ini tidak sematematis itu, bisa bertambah, bertambah dan bertambah. Disebutkan di sana sihir, memakan riba’, membunuh manusia tanpa ketentuan syari’at, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, berbuat zina, beliau juga sebutkan di sana, meninggalkan shalat fardhu, meninggalkan shiyam Ramadhan tanpa udzur, meninggalkan zakat padahal mampu, minum-minuman keras, berjudi, menjadi saksi palsu dan lain sebagainya.

Hadirin, ikhwani fiddin arsyadakumullah

Kalau kita mau meninggalkannya, maka Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa kecil. Bukan hanya itu Allah juga akan memasukkan ke dalam tempat yang mulia yaitu Jannah Allah subhanahu wata’ala.

Selain ayat ini, ada juga beberapa hadits Rasulullah ﷺ. Dari Abi Hurairah z dan Anas bin Malik, dua orang sahabat Rasululah n yang sangat dibenci oleh orang-orang syi’ah. Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Tirmidzi. Rasulullah ﷺ bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Shalat lima waktu, artinya kita melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ dan ikhlas karena Allah subhanahu wata’ala. Shalat subuh tadi akan menghapus dosa antara Isya sampai Shubuh. Begitu juga Dzuhur akan menghapus dosa antara Shubuh sampai Dzuhur. Begitu juga Ashar, Maghrib dan Isya. Rasulullah mempertegas,

وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ

Jumat yang lalu sampai jumat sekarang, menghapus dosa selama satu pekan.

Ikhwani fiddin arsyadakumullah

Sangat mungkin ada dosa-dosa yang belum terampuni oleh Allah subhanahu wata’ala, antara dua shalat fardhu atau antara jumat sekarang dengan jumat berikutnya.  Kenapa? Karena kita teledor dalam mengerjakannya. Kita tahu bahwa waktu shalat Jumat hari ini sekitar pukul 11:45 menit, pukul 11:30 kita masih sibuk dengan dunia kita, masih sibuk dengan akhirat kita, untuk menyelesaikan tilawah yang kurang setengah juz lagi. Yang namanya shalat harus mengalahkan segalanya hatta tilawatul Qur’an, mengajar, atau aktivitas-aktivitas yang dicatat oleh Allah SWT sebagai amal shalih. Walakhir kita datang ke masjid ketika imam sudah berada diatas mimbar.

Bukan hanya shalat juma’t. Rasulullah ﷺ juga menjanjikan bagi siapa yang mengerjakan shiyam Ramadhan,

وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ

Antara Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lain bisa menghapus dosa selama satu tahun. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Barangsiapa mengerjakan shiyam Ramadhan, berangkat dari keimanan dan pengharapan akan diampuni dosanya yang telah lalu…” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Ada hadits lain tentang pengampunan Allah subhanahu wata’ala yaitu melaksanakan shiyam arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 dari bulan Dzulhijjah. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” HR. Muslim

Ikhwani fiddin arsyadakumullah

Saya ulangi sekali lagi, antara dua shalat, dua Jumat, dan dua Ramadhan akan menghapus dosa yang mereka lakukan. Hadits ini belum selesai, Rasulullah ﷺ mensyaratkan, jika dia mau menjauhi dosa-dosa besar.

Ibnu Hajar al-Atsqalani, penulis kitab Syarh al-Bukhari mengatakan, “Yang diampuni antara dua shalat, yang diampuni antara dua Jum’at, antara dua Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil dengan syarat apabila yang bersangkutan mau menjauhi dosa-dosa besar.” Artinya apa? Seandainya dia mau menjauhi dosa besar maka dosa-dosa kecil dia akan diampuni Allah subhanahu wata’ala. Apabila dia tidak mau menjauhi dosa besar, shiyam Ramadhannya, qiyamullailnya tidak bisa menghapuskan sedikitpun dosa kecil apalagi dosa besar.

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Shalat lima waktu menghapuskan setiap dosa di antara waktu-waktu tersebut selama seseorang menjauhi dosa besar.

Ikhwani fiddin arsyadakumullah

Satu bukti yang sering saya angkat melalui mimbar Jumat seperti ini. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam shahihnya. Seorang laki-laki yang sudah berumah tangga bernama al-Mai’z al-Anshari, karena Setan lebih kuat menggodanya, akhirnya dia berselingkuh dengan seorang wanita. Setelah itu ia sadar akan perbuatan dosa yang telah dikerjakan, ia takut dengan hukuman Allah subhanahu wata’ala di Neraka nanti, dengan penuh tekad ia menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan meminta agar dihukum rajam. Rasulullah memberikan dua pertanyaan, apakah kamu sadar? Iya, saya sadar. Apakah kamu sudah berkeluarga? Iya, saya sudah berkeluarga. Dan ada pertanyaan ketiga, pertanyaan ini bukan dari Rasulullah ﷺ tetapi tambahan dari saya sendiri. Kapan kamu berzina? Ketika bulan Sya’ban. Kalau begitu kamu sudah melaksanakan shiyam Ramadhan, satu bulan penuh. Dan Rasulullah tidak mengatakan, karena kamu sudah berpuasa Ramadhan, maka dosamu telah terampuni. Namun Rasulullah ﷺ tetap memerintahkan para sahabat untuk merajam al-Maiz.

Kisah yang kedua, tentang seorang wanita Ghamidiyah yang sudah berkeluarga, tetapi dia berselingkuh. Datang kepada Rasulullah ﷺ minta dihukum karena telah berbuat zina hingga hamil. Kemudian Rasulullah ﷺ perintahkan agar pulang dan datang kembali setelah bayi yang dikandungnya lahir. Delapan bulan kemudian, ia datang kepada Rasul dengan membawa anaknya yang masih bayi seraya berkata, “Ya Rasulullah anak saya sudah lahir, hukumlah saya.” Apa kata Rasulullah ﷺ, “Pulanglah! Kamu susui anakmu sampai dua tahun.”

Karena besarnya rasa takutnya kepada Allah, dua tahun kemudian wanita tadi datang kepada Rasulullah ﷺ minta dihukum sebagaimana ketetapan Allah subhanahu wata’ala. Menariknya, Rasulullah tidak bertanya, bukankan kamu sudah berpuasa Ramadhan dua tahun ini? Karena sudah berpuasa Ramadhan maka pulanglah, dosa perselingkuhanmu sudah diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala.

Pemahaman inilah yang menyebar ditengah-tengah masyarakat, bahwa dengan datangnya hari raya Iedul Fitri maka semua dosa-dosa yang telah dikerjakan telah lunas secara vertikal, tinggal kita minta maaf kepada sesama. Sehinga kita telah kembali suci seperti kertas, suci seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Pemahaman ini sudah mengakar, sudah mendarah daging baik di kalangan masyarakat awam maupun para tokoh agama. Padahal, berdasarkan dua bukti diatas, kemudian surat an-Nisa ayat 31 dan hadits Rasulullah tentang penghapusan dosa, itu berlaku jika pelakunya mau meninggalkan dosa-dosa besar.

Marila kita tanamkan di dalam diri kita, bahwa kita mampu untuk menjauhi dosa-dosa besar, itu yang pertama.

Yang kedua, bahwa shiyam Ramadhan saya, itu akan menghapus dosa-dosa kecil saya seperti, Jum’at dengan jumat berikutnya, shalat fardhu dengan yang lain. Sementara dosa-dosa besar saya tidak akan diampuni oleh Allah kecuali;

  1. Saya beristghfar dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
  2. Kalau perbuatan dosa besar saya hanya sekali, sementara amal shalih menggunung di dalam diri saya.
  3. Saya mempunyai keluarga yang syahid, dengan kesyahidannya dia memberi syafa’at kepada saya.
  4. Saya mengharap syafa’at kepada Rasulullah ﷺ karena saya senantiasa berusaha menjauhi larangan-larangan Allah dan mengerjakan perintah-Nya.

 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah kedua

Ikhwani fiddin arsyadakumullah, Ramadhan akan menghapus dosa-dosa kecil kita, itupun kalau kita mau meninggalkan dosa-dosa besar. Kalau semua dosa, baik yang besar maupun yang kecil itu bisa terampuni dengan mengerjakan shiyam Ramadhan, maka orang-orang yang mencuri, korupsi, berzina, berjudi, minum minuman keras akan merasa bebas ketika datang Iedul Fitri. Dan dia akan mengulangi lagi dengan pertimbangan, mudah-mudahan tahun depan dosa saya akan terampuni lagi karena saya akan mengerjakan shiyam Ramadhan.

Pemahaman yang seperti ini akan memberikan kesempatan kepada pelaku dosa-dosa besar untuk mengulangi perbuatanya. Pemahaman, bahwa semua dosa besar dan kecil akan terhapuskan dengan mengerjakan shiyam pada bulan Ramadhan tidak dikenal dalam ajaran Islam. Bahkan, di dalam ajaran Syi’ah juga tidak mengenal itu. Yang mereka kenal adalah siapa saja yang melakukan nikah Mut’ah. prostitusi yang terselubung,  maka dosa-dosanya akan diampuni. Semakin banyak melakukan nikah Mut’ah maka semakin banyak dosa yang akan diampuni, naudzubillah.

Kita akhiri khutbah pada siang hari ini dengan berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

oleh: Ust. Abdullah Manaf Amin

%d bloggers like this: