Jangan Serius Dalam Beragama!

jangan serius dalam beragama?

Isu toleransi merupakan hal yang sensitif di kalangan antar umat beragama. Islam, dengan ajarannya sering dianggap intoleran. Lebih ironis lagi, jika isu itu dilontarkan oleh pihak yang mempunyai kedudukan. Pernyataan yang keliru pun akan dianggap sebagai suatu kebenaran oleh publik.

Dalam sebuah acara yang bernuansa religius, Menteri Agama Indonesia menyampaikan wejangannya pada sesi penyampaian sambutan kepada para hadirin. Ungkapnya, “Kita jangan terlalu tegang dalam menganut paham Agama, jangan kita terlalu formalistis dalam menjalani kehidupan keagamaan atau terlalu serius, sehingga melupakan substansi agama, yakni saling mengasihi dan saling memperhatikan satu sama lain“.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, serius dalam beragama memang adalah sesuatu yang sangat penting. Namun jika terlalu serius, itu berpotensi menimbulkan sesuatu yang berlebihan dan dapat mengurangi rasa toleransi dalam kehidupan sehari-hari yang seakan-akan yang berbeda harus seolah dipaksakan untuk sama dengan mereka.

“Inilah yang muncul gejala-gejala di negara-negara lain, dan sedikit demi sedikit sudah menggerogoti bangsa kita, sehingga untuk membendung itu mari kita terus mempertahankan nilai-nilai budaya yang baik dan arif yang digunakan oleh para ulama pendahulu kita dalam menebarkan nilai-nilai agama,” ujarnya. Di akhir paparannya, pak Menag mengatakan, “Sehingga saya mengatakan jangan terlalu serius dalam beragama apalagi sampai melupakan nilai-nilai budaya yang baik yang semula digunakan untuk menebarkan ajaran Islam,” tutupnya.

Pernyataan ini tertuju secara khusus bagi umat Islam. Dan Ini adalah pernyataan yang aneh. Tak ayal lagi, pasti ada kerancuan dalam pernyataan bapak menteri tersebut.

Berangkat Dari Pemikiran Keliru

Penyataan Menag tersebut memunculkan persoalan yang serius. Sebab berkaitan erat dengan bagaimana seharusnya seorang Muslim dalam menjalankan ajaran agamanya. Ada beberapa poin yang perlu dicermati.

Pertama dalam memaknai kata serius. Kata ini, dalam KBBI berarti bersungguh-sungguh. Sehingga jika dicermati, pernyataan jangan serius beragama yang dilontarkan oleh Menag itu mengandung larangan untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan agama.

Hal ini kontradiktif dengan perintah Allah subhanahu wata’ala, yang memerintahkan kepada umat Islam untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Dan takwa adalah bagian dari beragama. Berarti Menag melarang umat Islam untuk bertakwa dengan sesungguhnya, sehingga tidak perlu mengindahkan perintah serta larangan dalam ajaran agama.

Padahal dalam Islam telah diatur banyak hal. Tidak hanya persoalan ibadah yang kaitannya dengan sang pencipta. Bahkan hubungan sosial dengan sesama Muslim dan non-Muslim pun juga diatur.

Kedua, benarkah jika serius beragama berarti tidak toleransi? Seakan Islam hanya mengajarkan permusuhan, dan tidak ada toleransi di sana. Perlu dipahami bahwa Islam memiliki konsep toleransi sendiri.

Dalam Islam, istilah yang terdekat dengan toleransi adalah tasamuh, yang berarti kemurahan hati, kedermawanan, dan kemudahan. Bukan toleransi yang mendasari tegaknya demokrasi sekuler. Toleransi dengan makna ini berimplikasi kepada pemahaman relativisme dan pluralisme.

Paham relativisme dan pluralisme agama berbahaya bagi umat. Sebab, pemahaman ini menjadikan penderitanya berkeyakinan bahwa kebenaran tidak hanya ada dalam satu agama, yang berarti merelatifkan kebenaran Tuhan yang sejatinya absolut. Oleh sebab itu, agar terjaga dari bahaya ini, seorang Muslim bukan hanya harus serius dalam memahami agama. Bahkan harus serius juga dalam menjalankannya.

Sikap toleran harus dimiliki seorang Muslim. Baik sesama umat Muslim maupun non-Muslim. Yusuf al-Qardhawi memaparkan beberapa faktor utama yang menyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat Islam terhadap non-Muslim. Pertama, keyakinan terhadap kemuliaan manusia sebagai makhluk hidup, apapun agamanya, kebangsaannya dan kerukunannya.

Kedua, perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas yang dikehendaki Allah subhanahu wata’ala yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman atau kufur. Ketiga, keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik. Allah juga mencela perbuatan zalim meskipun terhadap kafir. Wallahu A’lam [-]

 

Daftar Bacaan:

Al-Fairuz Abadi, Al-Qamus al-Muhith, Tahqiq: Maktab Tahqiq Turats, (Beirut: Muassasah ar-Risalah, Cet-8, 1426 H)

Al-Qurtubi, Al-Jami’ Li Ahkam al-Quran, Tahqiq: Ibrahim Adfis, (Kairo: Dar Kutub al-Mishriyah, cet-2, 1384 H)

John Hick, A Christian Theology Of Religions: The Rainbow Of Faiths, (America: SCM, 1995)

Yusuf al-Qardhawi, Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami, (Kairo : Maktabah Al-Wahbah, 1992)

http://makassar.tribunnews.com/2017/07/25/di-mamuju-menteri-agama-jangan-terlalu-serius-dalam-beragama/diakses 2/8/2017-10.11 WIB

 

Oleh: Ilyas Mursito

%d bloggers like this: