Isbal Dalam Shalat

Isbal Dalam Shalat

بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّى مُسْبِلاً إِزَارَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ. فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ . فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ قَالَ إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ صَلاَةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ.

“Ada seseorang yang shalat dalam keadaan isbal—celananya menjulur di bawah mata kaki. Rasulullah ﷺ lantas berkata padanya, ‘Pergilah dan kembalilah berwudhu.’ Lalu ia pergi dan berwudhu, kemudian ia datang kembali. Rasulullah ﷺ masih berkata, ‘Pergilah dan kembalilah berwudhu.’ Kemudian ada yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau memerintahkan padanya untuk berwudhu, lantas engkau diam darinya?’ Nabi ﷺ lantas bersabda, ‘Ia shalat dalam keadaan isbal—menjulurkan celana di bawah mata kaki, padahal Allah tidak menerima shalat dari orang yang isbal.’” (HR. Abu Daud)

 

pengertian isbal

Isbal adalah istilah berasal dari bahasa arab أَسْبَلَ–يُسْبِلُ–إِسْبَالًا yang memiliki makna menjulurkan atau menurunkan ke bawah. (Lihat Lisanul ‘Arab, Ibnul Munzhir, 11/321, Kamus Munawir, Ahmad Warson al-Munawwir, 607)

Adapun isbal secara istilah adalah menurunkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak. Hal ini senada dengan yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir, beliau berkata,

“Musbil adalah orang yang memanjangkan pakaiannya dan menjulurkannya sampai ke tanah apabila ia berjalan dan ia melakukan itu (isbal) karena sombong/congkak.” (An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, Ibnul Atsir,  2/339)

DALIL-DALIL YANG BERKAITAN DENGAN ISBAL

Terdapat beberapa dalil yang membicarakan permasalahan isbal ini.

Pertama, hadits dari Abu Hurairah, ia berkata,

“Ada seseorang yang shalat dalam keadaan isbal—celananya menjulur di bawah mata kaki. Rasulullah ﷺ lantas berkata padanya, ‘Pergilah dan kembalilah berwudhu.’ Lalu ia pergi dan berwudhu, kemudian ia datang kembali. Rasulullah ﷺ masih berkata, ‘Pergilah dan kembalilah berwudhu.’ Kemudian ada yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau memerintahkan padanya untuk berwudhu, lantas engkau diam darinya?’ Nabi ﷺ lantas bersabda, ‘Ia shalat dalam keadaan isbal—menjulurkan celana di bawah mata kaki, padahal Allah tidak menerima shalat dari orang yang isbal.’” (HR. Abu Daud)

Kedua, dari Ibnu Umar c, Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya kelak di hari kiamat.” Kemudian Abu Bakar c bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku melebihi mata kaki, kecuali aku menyingsingkannya.” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Kamu bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, dari Abu Hurairah z, bahwasanya Rasulullah ﷺ telah bersabda,

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Allah tidak akan melihat kepada orang yang menjulurkan sarungnya di bawah mata kaki karena sombong.” (Muttafaq ‘Alaih)

Masih banyak lagi hadits-hadits yang berbicara mengenai isbal yang tidak mungkin kita cantumkan semuanya.

BACA JUGA: SHALAT ISBAL DOSA, TAPI TAK BATAL?

HUKUM ISBAL

Isbal adalah persoalan fikih yang sering diperbincangkan oleh sebagian kaum muslimin. Ada di antara mereka yang mencibir orang-orang yang tidak isbal. Begitu juga sebaliknya, ada orang-orang yang mencela orang yang isbal dalam mengenakan pakaian.

Barangkali sikap-sikap tersebut berangkat dari perbedaan para ulama fikih dalam menghukumi isbal; ada yang membolehkan, ada pula yang mengharamkan.

Isbal atas dasar perasaan sombong dan congkak dalam hatinya jelas telah diharamkan. An-Nawawi menjelaskan, “Diharamkan memanjangkan pakaian hingga mata menutupi mata kaki karena sombong.” (Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin, Muhyiddin an-Nawawi, 1/575)

ISBAL BUKAN KARENA SOMBONG

Mengenai orang yang isbal bukan didasari oleh rasa sombong di hati, para ulama berbeda pendapat.

Pendapat pertama, isbal hukumnya boleh. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. Ibnu Muflih berkata, “Diriwayatkan bahwa Abu Hanifah memakai jubah mahal yang menjulur hingga ke tanah. Maka ada yang berkata kepadanya, ‘Bukankah kita dilarang melakukan itu?

Abu Hanifah pun menjawab, ‘Sesungguhnya larangan itu hanyalah untuk yang berlaku sombong, sedangkan kita bukan golongan mereka.’” (Al-Adab asy-Syar’iyah, Ibnu Muflih, 3/521)

Pendapat kedua, isbal hukumnya makruh. Ini adalah pendapat dari madzhab Hambali dan Syafi’i.  Imam an-Nawawi berkata, “Isbal di bawah kedua mata kaki karena sombong tidak diperbolehkan. Sedangkan isbal bukan karena sombong maka hukumnya makruh.” (Syarhul Muslim, Muhyiddin an-Nawawi, 14/ 62)

Ibnu Qudamah berkata, “Isbal pakaian, sarung atau celana hukumnya makruh, sedangkan yang melakukannya kerena sombong hukumnya haram.” (Al-Mughni, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, 2/298)

Pendapat ini menganjurkan untuk tidak melakukan isbal, artinya meninggalkan isbal lebih baik.

Pendapat ketiga, isbal hukumnya haram. Ini adalah pendapat sebagian ulama madzhab Maliki seperti, Ibnul Arabi dan al-Qarafi. (Aridhatul Ahwadzi, Ibnul Arabi al-Maliki, 7/238)

Ulama dari madzhab syafi’i pun ada yang perbendapat bahwa isbal hukumnya haram. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Adz-Dzahabi asy-Syafi’i. (Siyaru A’lami an-Nubala’, Adz-Dzahabi asy-Syafi’i, 3/234)

ISBAL DALAM SHALAT

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Seandainya hadits tersebut shahih (hadits shalat dalam kondisi isbal), maka maknanya adalah ancaman yang keras bagi pelaku isbal di dalam shalat. Hadits yang disebutkan di atas memuat peringatan bagi pelaku isbal. Adapun shalatnya tetap sah. Karena Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan padanya untuk mengulangi shalat, yang diperintah hanyalah mengulangi wudhu. Penafian dalam diterimanya shalat bukan berarti shalat tersebut jadi batal seluruhnya. Karena dalam hadits lain disebutkan, “Siapa saja yang mendatangi tukang ramal lalu ia bertanya ramalan sesuatu, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” Sebagaimana hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya.

Imam an-Nawawi pun telah menukil adanya Ijma’ (konsensus ulama) bahwa shalat orang yang isbal tadi tidak perlu diulangi. Cuma orang yang shalat seperti itu terkena ancaman dan peringatan. Juga terdapat pandangan dari berbagai hadits lain yang menunjukkan bahwa tidak diterima shalat dalam hadits yang membicarakan isbal tidaklah menunjukkan batalnya shalat. Karena Rasulullah ﷺ sendiri tidak memerintahkan mengulangi shalat.

Jadi, maksud Nabi ﷺ adalah mengulangi wudhu cuma sebagai peringatan. Dan wudhu juga dapat meringankan dosa. Hal ini jika hadits tersebut dianggap shahih.” (Fatawa Ibnu Baz, Abdul Aziz bin Baz, 26/ 235-237)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Shalat orang yang isbal itu sah, akan tetapi ia berdosa. Begitu pula seseorang yang memakai pakaian yang haram seperti baju hasil curian, baju yang terdapat gambar makhluk bernyawa, baju yang terdapat simbol salib atau terdapat gambar hewan. Semua baju seperti itu terlarang saat shalat dan di luar shalat. Shalat dalam keadaan isbal tetap sah, akan tetapi berdosa karena mengenakan pakaian seperti itu.

Inilah pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini. Karena larangan berpakaian isbal bukan khusus untuk shalat. Mengenakan pakaian haram berlaku seperti itu saat shalat dan di luar shalat. Dikarenakan tidak khusus untuk shalat, maka shalat tersebut tidaklah batal. Inilah kaedah yang benar yang dianut oleh jumhur atau mayoritas ulama.” (Syarh Riyadhus Shalihin, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 4/300-301).

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah ketika mensyarh hadits (di atas/isbal ketika shalat) tersebut berkata, “ Dan maksud dari hadits ini—wallahu a’lam—  sesungguhnya sarung yang isbal adalah kemaksiatan, dan siapa saja yang melakukan maksiat maka ia diperintahkan untuk berwudhu dan shalat. Karena wudhu akan memadamkan panasnya maksiat.” (Al-Qaulul Mubin fi Akhtha-il Mushallin, Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Bin Mahmud, 35)

 

Oleh: Luthfi Fathoni

%d bloggers like this: