Iklan Rokok, Kreatif Atau Menipu?

iklan rokok

Di dalam PP NO.109 tahun 2012, pasal 39 tentang Pengaturan periklanan untuk produk tembakau/rokok disebutkan bahwa “Setiap orang dilarang menyiarkan dan menggambarkan dalam bentuk gambar atau foto, menayangkan, menampilkan atau menampakkan orang yang sedang merokok, memperihatkan batang rokok, asap rokok, bungkus rokok, atau yang berhubungan dengan produk tembakau serta segala bentuk informasi produk tembakau di media cetak, media penyiaran, dan media teknologi informasi yang berhubungan dengan kegiatan komersial/iklan atau membuat orang ingin merokok.”

Sulit bukan? Mengiklankan barang tapi tidak boleh menunjukkan barangnya bahkan sekedar menampilkan bungkusnya pun tidak boleh. Lantas, apakah larangan ini menghentikan langkah produsen rokok untuk beriklan? Tentu saja tidak. Dengan cerdik, mereka menggaet tim-tim kreatif membuat iklan-iklan yang lolos sensor dari undang-undang. Tidak ada rokok, aktivitas eksplisit merokok bahkan sekadar bungkus rokok pun tidak ada dalam semua iklan rokok. Konten kalimat yang persuasif mengajak konsumen merokok juga nihil. Bersih. Namun demikian, pesan, kesan sekaligus branding merk yang diiklankan dapat dengan jelas ditangkap pemirsa.

Lihat saja bagaimana masing-masing merk membranding diri, ada yang mengesankan diri sebagai pemberani dan tangguh, selera sukses, seleranya kaum pria, selalu berpikir jernih, tak pernah ragu dalam melangkah dan lain sebagainya. Aneh memang. Rokok yang secara medis dikategorikan sebagai barang berbahaya bagi kesehatan mengesankan diri dengan hal-hal positif di atas.

DOMINASI IKLAN ROKOK

Karena lolos sensor, iklan rokok pun membanjiri media masa. Silakan hitung perbandingan iklan rokok di Televisi dengan produk lainnya. Dominasi iklan rokok di media benar-benar menggurita. Iklan TV nasional didominasi oleh dua jenis iklan; iklan rokok dan iklan makanan. Iklan makanan turut mendominasi karena pertumbuhan produsen di bidang pangan memang berkembang. Sementara rokok hanya didominasi paling tidak tiga produsen besar. 

Situs merdeka.com pernah memuat berita berikut, “Lembaga survei Nielsen Indonesia mengungkap dominasi iklan nasional masih dipegang sektor industri tembakau. Belanja iklan kategori rokok mencapai Rp 1,9 triliun secara total dengan pertumbuhan sebesar 76 persen dari tahun sebelumnya.” (merdeka.com/mei/2016).

Itu baru di televisi, belum di media lain. Ekspansi iklan rokok benar-benar tak tertandingi jika sudah bicara event besar seperti konser musik bahkan event olahraga. Konser musik akbar yang rata-rata akan didatangi anak muda hampir semuanya disponsori rokok. Seakan-akan tidak ada yang kuat membiayai sebuah konser besar selain produsen rokok.

BACA JUGA: Fatwa Rokok, Fatwa Yang Diabaikan

Event olahraga pun tak luput dimangsa sponsor rokok. Ironis memang. Dalam dunia olahraga, rokok itu ‘haram’ karena sangat kontraproduktif dengan tujuan olahraga sebagai aktivitas menjaga kesehatan dengan merokok yang merusak kesehatan. Namun anehnya, event-event besar olahraga justru sponsor utamanya produsen rokok. Bahkan nama produsen rokok menjadi nama sebuah event olahraga sekaligus pialanya. Dan tentunya, karena sponsor utamanya adalah produsen rokok, semua media kit dalam iklan event tersebut akan mencantumkan sponsornya.

IKLAN ROKOK DALAM PANDANGAN SYARIAT

Iklan rokok memang mampu meloloskan diri dari sensor undang-undang positif. Tapi bagaimana jika ditinjau dari sisi syar’i?

Ada 3 aspek penting dalam beriklan yang harus diperhatikan agar tidak melanggar syariat; Jujur dalam bahasa dan visual, objek yang diiklankan halal, konten iklan tidak melanggar syariat. Ketiganya merupakan poin penting yang harus terpenuhi. Satu saja dilanggar, hukum iklan dapat berubah menjadi “dilarang”.

Jujur dalam bahasa dan visual maksudnya, bahasa dan visualisasi dalam iklan haruslah sesuai dengan barang. Penggunaan bahasa yang persuasif dibolehkan asalkan tetap proporsional. Visualisasi baik dalam bentuk gambar maupun video harus sesuai dengan kenyataan barang. Jikapun terdapat aksesoris tambahan, semestinya harus divisualisasikan sedemikian rupa sehingga konsumen dapat langsung memahami bahwa hal tersebut adalah aksesoris.

Hal ini mengacu pada hadits-hadits yang melarang perbuatan manipulatif dalam berdagang. Baik manipulasi dalam penawaran, display, maupun iklan.Dari Abu Hurairah, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى »

“Rasulullah ﷺ pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, ‘Apa ini wahai pemilik makanan?’ Sang pemiliknya menjawab, ‘Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.’ (HR. Muslim).

Dari aspek ini, iklan rokok sangat manipulatif. Misalnya, pada sebuah iklan rokok, slogan iklannya “pemberani dan tangguh”.  Secara eksplisit memang tidak dinyatakan bahwa jika anda merokok dengan produk merk ini, maka anda akan menjadi pribadi yang pemberani dan tangguh. Namun tentunya, memang kesan itulah yang ingin disematkan kepada merk yang diiklankan dan disampaikan kepada pemirsa.

Aspek kedua, objek yang diiklankan harus halal. Ini jelas. Memasarkan dan mengiklankan barang haram berarti mengajak orang untuk melanggar larangan Allah. Pun demikian, poin ini harus ditempatkan secara tepat. Ada barang-barang yang haram dikonsumsi tapi tetap boleh diiklankan bukan sebagai konsumsi melainkan sesuai fungsi. Misalnya, racun tikus haram dikonsumsi tapi tetap boleh diiklankan sebagai pembasmi hama.

Dari aspek ini, iklan rokok pun cacat secara syar’i karena hukum rokok dinyatakan haram oleh sebagian besar ulama. Majelis-majelis fatwa negara-negara dengan mayoritas muslim seperti Saudi, Mesir, Suriah dan Malaysia juga Indonesia tentunya telah mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok. Jika rokok haram dikonsumsi, maka haram pula untuk dijual dan diiklankan.

Aspek ketiga, konten iklan tidak melanggar syariat. Tidak mengandung kalimat yang melanggar syariat dan etika, juga visual yang menampakkan aurat, pornografi dan hal-hal tidak etis. Pada aspek ini, iklan rokok barangkali sedikit lebih ‘bersih’. Pasalnya, iklan rokok menyasar kaum lelaki hingga bintang iklan utamanya pun kebanyakan adalah lelaki. Kata-kata yang digunakan pun relatif aman karena telah disensor oleh Lembaga Sensor. Pun begitu, pelangaran soal aurat pun masih sering terjadi. Bahkan pernah terjadi kasus, iklan rokok yang memamerkan pasangan muda-mudi yang berpelukan, meski akhirnya ditarik karena mendapat banyak respon negatif dari masyarakat.

Belum lagi jika menimbang madharat lain berupa bukti nyata bahwa iklan rokok meningkatkan jumlah perokok, khususnya kalangan remaja. Hasil survey yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak menyatakan bahwa 99.7 % anak dan remaja terpapar iklan rokok di berbagai media dan 50% remaja merasa lebih percaya diri seperti yang dicitrakan dalam iklan rokok. Intinya bahwa iklan rokok terbukti meningkatkan jumlah perokok.

Jadi, mengingat hal ini, sepertinya langkah paling mashlahat adalah melarang iklan rokok di berbagai media massa. Jika pun rokok tidak benar-benar dapat dihiangkan, minimal ajakan merokok via iklan menjadi nihil (dari berbagai sumber). Wallahua’lam. [.]

 

 

%d bloggers like this: