Haram Dimakan Tapi Halal Dijual Belikan

Haram Dimakan Tapi Halal Dijual Belikan

Ada satu hadits riwayat Ibnu Abbas yang berbunyi,

إنَّ اللهَ إذا حرَّمَ شيئاً ، حرَّمَ ثَمَنَهُ

Sesungguhnya ketika Allah mengharamkan sesuatu, Dia haramkan uang hasil penjualannya. (HR. Ibnu Abi Syaibah.

Hadits ini sering dipahami sebagai larangan untuk menjual-belikan benda apapun yang hukumnya haram. Hadits ini memang menggunakan kalimat umum, namun para ulama menjelaskan bahwa maksud hadits hanya untuk sesuatu yang haram dan fungsinya untuk dimakan.

Imam an Nawawi menjelaskan, Apabila Allah mengharamkan sesuatu, Allah pasti juga mengharamkan menjualbelikannya. Ini harus dipahami bahwa maksudnya adalah jika objek yang diharamkan tersebut tidak dimanfaatkan kecuali untuk dikonsumsi. Adapun jika bukan untuk dikonsumsi seperti hamba sahaya, bighal dan keledai jinak, tetap boleh dijualbelikan menurut ijma’ meskipun haram dimakan.(Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, XI/3)

Kaidah fikih menjelaskan,

كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُهُ صَحَّ بَيْعُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ

“Semua benda yang manfaatnya sah (menurut syariat) maka sah pula menjualbelikannya kecuali ada dalil yang melarang“.

Kaidah ini menjelaskan hadits di atas sekaligus memberikan tolok ukur yakni adanya maslahat. Semua yang bisa dimanfaatkan boleh dijualbelikan meskipun statusnya haram dimakan. Pengecualiannya adalah keberadaan dalil yang mengharamkan secara spesifik. Misalnya khamr haram dimakan dan juga haram dijualbelikan meskipun memiliki manfaat. Khamr beda dengan alkohol. Alkohol adalah suatu zat yang terkandung dalam khamr bersama beberapa zat lain, tapi tidak setiap alkohol disebut khamr.

Racun, zat-zat berbahaya, barang tambang adalah bebrapa contoh benda yang haram dimakan tapi tetap halal dijualbelikan. Alasannya, benda-benda tersebut tidak untuk dikonsumsi dan memiliki manfaat lain selain dikonsumsi. Jadi, benda-benda ini dijualbelikan untuk dimanfatkan sesuai fungsi yang sebenarnya.

Kaidah ini menjawab beberapa pertanyan mengenai hukum jual beli beberapa jenis hewan yang haram dimakan dan jamak dijualbelikan seperti ular, berbagai macam jenis tikus, jenis kadal, kura-kura, serangga seperti semut dan lebah madu. Juga beberapa jenis hewan yang termasuk hasyarat yang banyak dijual belikan seperti cacing, lintah, lipan dan berbagai macam jenis ulat. Cacing, lintah dan ulat sutra justru dibudidayakan dan diperdagangkan untuk bahan pengobatan.

BACA JUGA: Haram Meskipun Berkhasiat

Seperti sudah menjadi maklum bahwa hasyarat (hewan tanah) seperti tikus, ular dan serangga dan hewan tak bertulang belakang hukumnya haram dikonsumsi. Haram pula dijualbelikan jika tujuannya adalah konsumsi. adapun jika dijualbelikan bukan untuk dikonsumsi hukumnya boleh. Misalnya menjual lebah untuk penghasil madu, ulat sutra penghasil sutra, lintah untuk bekam dan cacing untuk pakan ternak, maka hukumnya boleh.

Di dalam al Mausuah al Fiqhiyah disebutkan;

Ulama sepakat, tidak boleh menjual serangga yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Syarat barang yang dijual harus memiliki manfaat. Jadi, tidak boleh menjual tikus, ular, kalajengking, kumbang ampal, semut dan lain sebagainya karena hewan-hewan ini tidak memiliki manfaat yang senilai dengan harta dikeluarkan untuk membelinya. Adapun hewan dalam kategori hasyarat yang memiliki manfaat, boleh dijual, seperti ulat sutra penghasil benang sutra, dan menjadi kain termahal,  atau lebah yang bisa menghasilkan madu.

Penganut mazhab Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali mengatakan bolehnya menjual lintah, karena orang butuh untuk pengobatan dengan menghisap darah… Ulama Hambali menegaskan, boleh menjual ulat untuk umpan mancing ikan. Al-Hashkafi – ulama Madzhab Hanafiyah – membuat batasan untuk jual beli hasyarat. Dia menyatakan, “Boleh menjual hasyarat kembali pada adanya unsur manfaat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/280 – 281).

Hanya saja, masing-masing hewan memang perlu dikaji lebih mendalam apakah ada dalil lain yang melarang atau tidak. Kaidah ini berlaku umum. Jika tidak ada dalil spesifik yang melarang jual beli hewan tersebut, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum umum.

Madzhab Syafiiyah mengecualikan semut karena semut disebut tidak memiliki manfat yang muktabar (diakui) dalam kehidupan manusia. Madzhab Hanbali membolhekan jual-beli semut jika memang dinilai ada manfatnya. (al Majmu’ IX: 240).

Masih menurut madzhab Syafiiyah, disebutkan dlam al Fiqh ‘ala Madzahibil Arba’ah II/161,“Bagian kedua adalah hewan yang tidak bermanfaat maka tidak boleh dijual-belikan seperti kura-kura, kalajengking, ular, ulat, tikus, semut dan semua jenis hasyarat. Tidak peluru melihat manfatnya karena manfatnya terlalu sepele.”

Adapun Mazhab hanaifyah masih membolehkan jual beli hasasyarat asalkan dipandang ada manfatnya. Disebutkan dalam kitab al Fiqhul islami wa Adilatuhu, DR Wahbah az Zuhaili, “Al hanafiyah berkata, sah hukumnya menjual hasyarat dan serangga seperti ular, kalajengking jika memanga da manfaatnya. Boleh juga menjual benda najis selain untuk sebagai konsumsi, menyamak kulit dan penerangan di Masjid. Kecuali minyak dari bangkai tidak boleh dimanfatkan sama sekali.”

Demikian pula menjualbelikan telur semut merah atau yang biasa disebut kroto. Kroto jamak dijualbelikan bukan untuk dikonsumsi melainkan untuk pakan burung, ikan dan hewan piaraan. Hukum jual beli kroto adalah boleh, jika mengacu pada madzhab Hanafiyah. Adapun madzhab Syafiiyah yang mengharamkan semut, telur hewan berbeda hukumnya dengan induknya. Wallahua’lam.

%d bloggers like this: