Berjualan di Lantai Bawah Masjid

berjualan di masjid

Di sebuah masyarakat, beberapa orang membangun bangunan dua lantai. Lantai pertama diniatkan sebagai toko untuk berjualan. Adapun lantai kedua diniatkan sebagai masjid untuk menunaikan shalat jama’ah, shalat Jum’at, majlis taklim, dan kegiatan ibadah mahdhah lainnya.

Kasus serupa sering kita jumpai di tengah masyarakat. Ada mushalla atau masjid yang dibangun di lantai kelima, misalnya, dari sebuah gedung supermarket atau hotel. Adapun lantai pertama hingga lantai keempat diperuntukkan tempat perbelanjaan dan restoran. Masjid atau mushalla tersebut adalah bagian dari fasilitas yang disediakan untuk kemudahan beribadah pada pengunjung.

BACA JUGA: Pemanfaatan Area Masjid Untuk Kegiatan Profit

Sebagian orang lantas bertanya, bagaimana hukum berjual beli di supermarket, toko, atau restoran yang terletak di bawah sebuah masjid? Apakah ia dilarang sebagaimana larangan jual-beli di dalam masjid?

JUAL-BELI DI DALAM MASJID

Jual-beli di dalam masjid adalah terlarang. Hal itu berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah z bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ، فَقُولُوا: لاَ أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

“Jika kalian melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah kepadanya ‘Semoga Allah tidak memberikan laba dalam perdaganganmu’.” (HR. At-Tirmidzi, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)

Juga berdasar hadits dari Abdullah bin Amru bin Ash z bahwasanya Nabi z melarang penjualan dan pembelian di dalam masjid. Beliau juga melarang dari melantunkan syair dan mencari barang yang hilang di dalam masjid. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah)

ALASAN PELARANGAN

Masjid dibangun sebagai tempat untuk melakukan ibadah-ibadah mahdhah. Seperti shalat jamaah, shalat Jum’at, i’tikaf, dzikir, tilawah Al-Qur’an, majlis taklim, dan sejenisnya. Masjid adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah سبحانه و تعالى dan mengingatkan kepada kehidupan akhirat.

Adapun mencari barang hilang dan jual-beli di dalam masjid bertolak belakang dengan tujuan pembangunan masjid itu sendiri.

Abu Hurairah z meriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يَنْشُدُ ضَالَّةً فِى الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لاَ رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا

“Barangsiapa mendengar seseorang mengumumkan pencarian barang yang hilang di dalam masjid, hendaklah ia mendoakan ‘semoga Allah tidak mengembalikan barangmu yang hilang’. Sebab, masjid-masjid itu dibangun bukan untuk hal seperti itu.” (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

JUAL BELI DALAM SUPERMARKET DAN TOKO DI BAWAH MASJID

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin Khathab Radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى حُلَّةً سِيَرَاءَ عِنْدَ بَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلِلْوَفْدِ إِذَا قَدِمُوا عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ

Dari Abdullah bin Umar z bahwasanya Umar bin Khathab melihat sebuah mantel panjang dari kain sutra, yang dijual (oleh Utharid bin Hajib At-Tamimi) di luar pintu masjid. Maka Umar berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika Anda membeli mantel ini, untuk Anda pakai pada hari Jumat dan saat menyambut para utusan yang datang kepada Anda.”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Orang yang memakai kain sutra hanyalah orang yang tidak mendapatkan bagian di akhirat kelak.”

Beberapa waktu kemudian, banyak kain sutra dikirimkan kepada Rasulullah ﷺ. Beliau memberikan satu lembar kain sutra kepada Umar bin Khathab. Maka Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda memberikan kain sutra ini kepadaku? Padahal Anda telah bersabda seperti itu terhadap kain sutra yang dijual oleh Utharid?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku memberikan kain sutra itu tidaklah untuk engkau kenakan.” Maka Umar pun memberikan kain sutra itu kepada seorang saudaranya yang musyrik di Makkah. (HR. Bukhari no. 886 dan Muslim no. 2068)

Dalam hadits shahih di atas, Utharid bin Hajib At-Tamimi berjualan pakaian di depan pintu masjid. Nabi ﷺ dan Umar bin Khathab z tidak mengingkarinya.

Imam Malik dalam Al-Mudawwanah Al-Kubra dan Imam Abu Hanifah –seperti dikutip oleh Ibnu Hammam Al-Hanafi dalam Syarh Fathil Qadir­– memperbolehkan pembangunan rumah atau toko di bawah gedung masjid.

Hal itu menunjukkan kebolehan jual-beli di dalam toko atau supermarket yang berada di bawah gedung masjid, jika ia diniatkan sejak awal bukan untuk tempat ibadah mahdhah. Wallahu A’lam [ ]

 

REFERENSI:

Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1410 H.

An-Nawawi, Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1421 H.

Muhammad bin Ismail Ash-Shan’ani, Subulus Salam Al-Mushilah Ila Bulughil Maram, Riyadh: Darul Ashimah, cet. 1, 1422 H.

 

%d bloggers like this: