Beda Hukum Kotoran Hewan

Beda Hukum Kotoran Hewan

Para ulama’ biasa membahas bab thaharah sebelum membahas rukun Iman yang kedua; shalat. Shalat tidak akan diterima ketika tidak dalam keadaan suci. Tidak Najis merupakan syarat sah diterimanya ibadah.

Oleh karena itu, membahas najis merupakan masalah penting. Terutama bila kita sering terkena sesuatu yang tergolong najis. Seperti kotoran dan kencing hewan.

SEMUA KOTORAN HEWAN SUCI (TIDAK NAJIS)

Terdapat suatu pendapat yang sedikit nyleneh seputar kotoran dan kencing hewan. Berdalil dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan Dia telah menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya.” (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 13)

Ayat QS. Al-Jaatsiyah [45]: 13 menunjukkan bahwa kita boleh memanfaatkan dan menggunakan apa yang ada di bumi. Karena status hukumnya suci selama tidak ada dalil yang menajiskannya.

Oleh karena itu, sebagian kaum muslimin menganggap bahwa semua kotoran dan kencing hewan suci, tanpa terkecuali. Bahkan, kotoran babi pun juga suci (tidak najis). Karena tidak ada dalil khusus pengharaman tentang kotoran hewan.

SEMUA SUCI TAK PERLU BERHATI-HATI

Pendapat “semua kotoran hewan suci” bila dipraktekkan dalam keseharian merupakan pendapat yang enak dan tak perlu berhati-hati.

Anjing mengencingi baju kita tak masalah. Babi kencing atau membuang kotoran tepat di area yang akan kita shalati, tak mengapa. Kotoran tikus yang jelas-jelas menempel di celana dan bau, tetap boleh digunakan shalat. Tahi kucing di mukena juga tidak menjadikan mukena najis.

BACA JUGA:  Hikmah Medis di Balik Kenajisan Anjing dan Kesucian Tanah

Jadi, semua barang yang terkena kotoran hewan baik yang haram dimakan atau halal dimakan, semuanya suci. Tak perlu berhatihati, tak perlu dicuci, dan semua itu tetap sah digunakan untuk shalat.

KOTORAN BABI & ANJING ADALAH SUCI

Di dalam kitab al-jami’ li ahkamis shalah halaman 93, Syaikh Abu Iyas Mahmud ‘Abdul Lathif ‘Uwaidhah menukil bahwa Asy Sya’bi dan Dawud Adh-Dhahiri berpendapat bahwa semua kotoran hewan suci. Kenapa?
Semua hadits tentang kotoran dan kencing bukan termasuk dalam pembahasan kotoran hewan. Mereka memahami bahwa perintah berhati-hati terhadap ِلْوَالب (kencing) dalam hadits di bawah ini hanya terkhusus kencing manusia. Kencing hewan tidak termasuk dalam hadits tersebut.

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Rasulullah n lewat di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya suka mengadu domba. …..” (Bukhari 216, 6055 dan Muslim 2028)

SEBALIKNYA, KOTORAN HEWAN NAJIS

Di sisi lain, sebagian besar para ulama’ berpendapat bahwa kotoran hewan najis. Bahkan, titik ekstrim nya, kotoran semua hewan najis. Pendapat ini berdasarkan hadits berikut:

أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَبَرَّزَ فَقَالَ ائْتِنِي بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ لَهُ حَجَرَيْنِ وَرَوْثَةَ حِمَارٍ فَأَمْسَكَ الْحَجَرَيْنِ وَطَرَحَ الرَّوْثَةَ وَقَالَ هِيَ رِجْسٌ

“Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hendak buang air besar, lalu beliau bersabda, ‘Berikanlah saya tiga buah batu’, dan aku (Abdullah ibn Mas’ud) hanya mendapatkan dua buah batu dan kotoran keledai yang sudah kering, kemudian Nabi menerima dua buah batu itu dan melemparkan kotoran kering tersebut, seraya berkata, ‘dia adalah rijsun (najis)’.” [Shahih Ibnu Khuzaimah, Juz 1, hadits no. 70]

“Seorang Arab dusun berdiri lalu dia kencing di masjid. Orang-orang berusaha menahannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada mereka, ‘Biarkan dia, dan siramlah bekas air kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberikan kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan’ (Shahih Bukhari, hadits no. 220)

Dua hadits di atas dijadikan pijakan dalil bahwa kotoran hewan najis alias tidak suci. Lafadz kencing dan kotoran dalam hadits di atas mencakup kotoran dan kencing semua hewan.

JALAN TENGAH: KOTORAN HEWAN ADA YANG NAJIS DAN ADA YANG SUCI

Terlepas dari dua pendapat yang saling bertolak belakang ini. Ada hadits dari Anas z, ketika segerombolan orang datang dari ‘Ukel atau dari ‘Uraynah, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka untuk meminum kencing dan susu dari unta perah.” (HR. Bukhari no. 233)

Kencing unta dalam hadits tersebut diperbolehkan untuk diminum berarti kencing tersebut tidak najis. Jadi, tidak semua kotoran hewan najis.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ditanya mengenai hukum shalat di kandang kambing, “Silakan shalat di kandang kambing, di sana mendatangkan keberkahan (ketenangan).” (HR. Abu Daud no. 184)

Hadits di atas menjelaskan bahwa tidak semua kotoran najis. Namun, ada yang suci yaitu hewan yang halal dimakan. Sebaliknya, tidak semua kotoran hewan suci. Hewan-hewan yang haram dimakan berarti kotorannya menjijikkan dan juga najis berdasarkan hadits Ibnu Khuzaimah di atas. Wal hasil, bagaimanapun, kotoran babi dan anjing termasuk najis. Berhati-hati tentu lebih baik. Wallahu A’lam. []

%d bloggers like this: