Batu Dari Jannah

hajar aswad

Setiap jamaah haji dan umrah pasti melakukan thawaf. Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran. Thawaf dimulai dari arah yang segaris dengan Hajar Aswad, lalu bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Setiap kali segaris dengan Hajar Aswad, mereka disunahkan untuk mencium, atau mengusap Hajar Aswad.

Jika hal itu sulit dilakukan karena begitu padatnya jama’ah, maka cukup mengangkat telapak tangan kanan dan melambaikannya ke arah Hajar Aswad.

BATU DARI JANNAH

Hajar Aswad secara harfiah bermakna batu hitam. Ia merupakan titik start dan finish ibadah thawaf. Letaknya berada di pojok dinding bagian tenggara bangunan Ka’bah. Secara fisik, ia hanya sebongkah batu hitam biasa. Ia tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Ia adalah benda mati layaknya benda-benda mati lainnya.

 

BACA JUGA: Rahasia Ilahi Adanya Ka’bah, Makkah, dan Haji

 

Meskipun demikian, Hajar Aswad memiliki asal usul luar biasa. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad adalah batu dari Jannah. Semula ia lebih putih dari es. Lalu ia menjadi hitam legam oleh banyaknya dosa-dosa kaum musyrik (yang menyentuhnya).” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ath-Thabarani)

Selain itu, Hajar Aswad memiliki arti penting bagi jamaah haji dan umrah di hari kiamat kelak. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Allah akan mengutus Hajar Aswad dan Rukun Yamani pada hari kiamat. Keduanya memiliki dua mata, lidah, dan dua bibir, untuk memberi kesaksian bagi orang-orang yang menyentuhnya dengan sempurna (niatan ibadah).” (HR. Ath-Thabarani)

ALIRAN SESAT SYIAH MERAMPAS HAJAR ASWAD

Qaramithah adalah kelompok teror yang menganut agama Syiah Ismailiyah. Qaramithah merekrut ribuan pengikutnya dengan cara menghalalkan perzinaan, minuman keras, pencurian, dan perampokan terhadap kaum muslimin. Pusat kekuatan mereka berada di Bahrain dan wilayah Asir, Arab Saudi bagian timur.

Pada tahun 311 H, Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id Hasan Al-Janabi Al-Qarmathi memimpin gerakan Qaramithah dalam menyerang dan menduduki kota Basrah. Di sana mereka melakukan pembantaian, perampokan, pemerkosaan, dan membumihanguskan rumah penduduk muslim. Pada tahun 313 H, mereka melakukan kebiadaban serupa di kota Kufah. Setelah itu, mereka melakukan hal serupa di Deir Ezzur (Suriah) dan Mosul.

Pada musim haji, bulan Dzulhijjah 317 H, Qaramithah menyerbu kota suci Makkah. Qaramithah membantai ribuan jamaah haji di dalam kompleks Masjidil Haram, merampas harta mereka, dan melemparkan mayat-mayat mereka ke dalam sumur Zam-Zam. Lalu mereka mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya dan mengangkutnya ke pusat kekuatan mereka di kota Hijr, wilayah Asir.

Dahulu kala wilayah Asir memiliki banyak curah hujan. Tanah pertaniannya sangat subur dan ditanami gandum. Namun sejak Hajar Aswad disimpan di sana, wilayah itu mengalami paceklik hebat. Tanahnya tandus dan hujan enggan turun. Pertanian gandum mengalami kegagalan total. Kaum Qaramithah merasakan siksaan hebat karena paceklik panjang itu.

TIDAK TERAPUNG DAN TIDAK HANGUS

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa khalifah Al-Muthi’ lillah berulangkali menawarkan tebusan dana yang sangat besar bagi Hajar Aswad. Namun Abu Thahir Al-Qaramithi selalu menolaknya.

Kaum muslimin di seluruh dunia saat itu marah besar atas kejahatan Qaramithah. Daulah Fathimiyah Mesir, majikan yang ditaati oleh Qaramithah, khawatir kemarahan kaum muslimin membahayakan eksistensi kekuasaan politik mereka di Mesir. Oleh karena itu, Daulah Fathimiyah Mesir memerintah Abu Thahir Al-Qarmathi untuk mengembalikan Hajar Aswad ke Makkah.

Qaramithah itu sangat keji dan licik. Mereka hendak mengirim Hajar Aswad palsu ke Makkah. Abu Thahir Al-Qaramithi menghadirkan sebuah batu yang dilumuri wewangian dan dibungkus kain sutra, agar disangka Hajar Aswad.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi meriwayatkan bahwa seorang ulama shalih yang bernama Abdullah bin Aqim mendatangi Abu Thahir Al-Qaramithi. Abdullah bin Aqim berkata, “Hajar Aswad yang asli memiliki dua ciri. Ia akan terapung saat dimasukkan ke dalam air, dan ia tidak akan hangus saat dibakar api.”

Batu yang dihadirkan Abu Thahir lalu diuji di depan umum. Ternyata batu itu tenggelam di air, dan nyaris pecah saat dibakar. Ternyata itu Hajar Aswad palsu. Abu Thahir lalu menyerahkan sebuah batu lain. Namun saat dites, kembali batu itu terbukti palsu.

Abu Thahir lalu menyerahkan Hajar Aswad yang asli. Saat dimasukkan ke dalam air, ternyata batu itu terapung. Lalu ia dibakar dengan api, ternyata ia tidak hangus. “Inilah Hajar Aswad kami yang asli,” kata Abdullah bin Aqim. Pada tahun 339 H, Abu Thahir Al-Qaramathi mengembalikan Hajar Aswad ke Baitullah Al-Haram. Jadi, Hajar Aswad sempat dikangkangi oleh Qaramithah selama 22 tahun lamanya. Wallahu a’lam bish-shawab []

Referensi:

Misteri dan Keajaiban Ka’bah: Dr. Abad Badruzaman

At-Tarikh Al-Islami: Mahmud Syakir

%d bloggers like this: