Barang Yang Sudah Dibeli HARUS BOLEH Ditukar atau Dikembalikan

pengembalian barang

Jual beli merupakan akad yang diatur secara ketat oleh syariat. Faktor-faktor yang menyebabkan kezaliman, perjudian dan riba diantisipasi sedemikian rupa oleh syariat. Termasuk berbagai syarat dalam jual beli yang berpotensi merugikan salah satu pihak. Baik itu syarat yang ditetapkan secara sepihak oleh penjual maupun pembeli.

Pada dasarnya, menetapkan suatu syarat dalam akad jual beli hukumnya boleh asalkan syarat tersebut sah. Di antara ciri sahnya suatu syarat dalam jual beli adalah syarat tersebut tidak merugikan atau berpotensi merugikan salah satu pihak. Salah satu contoh syarat dalam jual beli yang dapat merugikan salah satu pihak adalah syarat:

“Barang Yang Sudah Dibeli Tidak Boleh Dikembalikan”

Kita bisa menemukan syarat ini dalam nota atau bahkan ditulis di dekat display barang. Syarat ini menetapkan, barang yang sudah dipilih, dibayar dan diserahkan kepada pembeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan karena alasan apapun. Syarat ini menafikan komplain dan gugatan dari pembeli dalam bentuk apapun.

Di satu sisi, syarat ini menguntungkan penjual karena penjual dapat mengantisipasi adanya komplain dengan atas kerusakan barang yang telah dibeli padahal kerusakan tersebut disebabkan oleh pembeli sendiri. Pembeli untung karena mendapat ganti, sementara penjual rugi. Namun di sisi lain, syarat ini merugikan pembeli karena menghapus hak mereka untuk komplain dan mengembalikan barang yang benar-benar rusak sejak sebelum transaksi namun tidak diketahui sebelumnya.

Syarat semacam ini tidak sah. Manfaat yang diperoleh penjual berupa antisipasi adanya penipuan sifatnya masih dugaan, belum pasti. Sementara kerugian yang diterima pembeli dengan syarat ini sudah pasti, yaitu tertutupnya pintu komplain. Maka wajar jika syarat ini dilarang oleh Islam juga oleh Undang-undang perlindungan konsumen di Indonesia.

Dalam Syariat Islam, seorang muslim diharamkan menjual barang yang cacat kecuali harus menjelaskan cacatnya. Rasulullah SAW bersabda,

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak halal bagi seorang muslim menjual barang yang cacat kepada saudaranya kecuali telah ia jelaskan.” (HR. Ibnu Majah).

Apabila cacat pada barang baru diketahui setelah terjadinya akad dan ada indikasi bahwa cacat tersebut telah ada sebelum akad jual beli, maka berlaku khiyar ‘aib. Khiyar ‘aib yaitu hak memilih bagi pembeli (untuk mengembalikan atau menukar barang) dengan sebab cacat pada barang yang tidak diberitahukan oleh penjual atau penjual belum mengetahuinya dan ada indikasi cacat tersebut ada sebelum terjadi akad. Demikian sebagaimana dijelaskan oleh DR. Shalih bin al Fauzan dalam  al Mulakhkhash fil Fiqh II/27.

  1. Shalih bin al Fauzan melanjutkan: Apabila pembeli mengetahui aib atau cacat setelah transaksi, ia berhak memilih antara melanjutkan transaksi dan mengambil ganti rugi cacat barang, yaitu senilai selisih antara nilai barang tanpa aib dengan yang ada aibnya. Boleh juga menggagalkan transaksi dan mengembalikan barangnya dengan meminta kembali uang yang telah dibayarkan.”

Apabila aib diketahui pada saat serah terima atau sebelum serah terima, pembeli dapat langsung membatalkan transaksi. Adapun jika aib diketahui setelah serah terima bahkan berselang beberapa waktu, lalu terjadi perselisihan antara penjual dan pembeli, maka kasus ini harus diserahkan kepada hakim. Adapun jika terjadi taradhi atau saling menerima antara penjual dan pembeli, maka transaksi dapat dibatalkan saat itu juga.

Fatwa dari Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta juga melarang adanya syarat semacam ini. Berikut kutipan fatwanya:

Pengembalian Barang Yang Sudah Di Beli

Pertanyaan

 

Al-Lajnah Ad-Daa-imah Lil Buhuuts Al-Ilmiyah Wal Ifta ditanya : Bagaimana pandangan hukum syari’at mengenai tulisan yang menyebutkan :”Barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan dan ditukar” yang ditulis oleh beberapa pemilik toko pada faktur penjualan (kwitansi) yang mereka keluarkan. Apakah menurut syari’at syarat seperti itu dibolehkan ? Dan apa pula nasihat anda mengenai masalah ini ?
Jawaban


Menjual barang dengan syarat bahwa barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan dan ditukar adalah tidak boleh karena syarat tersebut tidak sah. Syarat tersebut mengandung madharat.  Tujuan syarat tersebut adalah agar pembeli harus tetap membeli barang tersebut meskipun cacat.

Persyaratan ini tidak melepaskan penjual dari tanggungjawab atas cacat yang terdapat pada barang. Sebab, jika barang itu cacat, maka pembeli boleh mengembalikannya dan menukar dengan barang yang tidak cacat, atau pembeli boleh mengambil ganti rugi dari cacat tersebut. Selain itu, pembayaran penuh harus diimbangi dengan barang yang bagus dan tidak cacat. Jadi, penjual yang mengambil harga penuh padahal ada cacat pada barang merupakan tindakan yang tidak sah.

Di sisi lain, syari’at telah memberlakukan syarat-syarat yang sudah biasa berlaku sebagaimana syarat berupa ucapan. Hal ini dimaksudkan agar pembeli selamat dari cacat, sehingga dia bisa mengembalikan barang yang dibeli jika terdapat cacat. Persyaratan barang dagangan bebas dari cacat menurut hukum kebiasaan yang berlaku, berkedudukan sama seperti persyaratan yang diucapkan. Wabillahit Taufiq. Dan mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para shahabatnya. (Fatwa No. 13788).

Tak hanya dilarang oleh Islam, syarat ini pun dilarang secara undang-undang. Dalam Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menetapkan bahwa Klausula Baku yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian dilarang bagi pelaku usaha, apabila dalam pencantumannya mengandung unsur-unsur atau pernyataan di antaranya sebagai berikut :

  1. Pengalihan tanggungjawab dari pelaku usaha kepada konsumen;
  2. Pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen;
  3. Pelaku usaha berhak menolak penyerahan uang yang dibayarkan atas barang atau jasa yang dibeli oleh konsumen.

Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan / atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen, klausula Baku aturan sepihak yang dicantumkan dalam kuitansi, faktur / bon, perjanjian atau dokumen lainnya dalam transaksi jual beli tidak boleh merugikan konsumen.

Pencantuman klausula baku semacam ini, sanksinya disamakan dengan tindak pidana penipuan seperti memperdagangkan barang yang tidak sesuai dengan berat, jumlah, ukuran, takaran, jaminan, keistimewaan, kemanjuran, komposisi, mutu sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau keterangan tentang barang tersebut. Atau pelanggaran berupa tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa  dan  memperdagangkan barang rusak, cacat, atau tercemar. Hukumannya adalah pidana penjara paling lama 5 tahun penjara atau denda sebesar Rp.2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).

Jadi, penjual hendaknya tidak mencantumkan syarat bathil semacam ini. Tidak perlu takut apabila ada konsumen yang hendak menipu dengan mengatakan barang cacat padahal sebenarnya rusak setelah dipakai. Semuanya bisa diselesaikan secara baik-baik (damai) atau jika perlu melibatkan persidangan. Bagaimanapun, komplain atas kerusakan suatu barang adalah hak konsumen yang tidak boleh dihapuskan.

Adapun sebagai konsumen, syarat semacam ini juga tidak perlu kita takutkan. Jika memang kita mendapati cacat pada barang yang benar-benar ada semenjak sebelum transaksi (bukan karena kesalahan kita), kita tetap berhak melakukan komplain meskipun di struk pembayaran tertulis “Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan”. Syarat itu melanggar syariat dan juga undang-undang. Kita bisa melaporkan hal itu kepada pihak berwajib. Wallahua’lam. (taufikanwar, dari berbagai sumber).

%d bloggers like this: