Air Madzi Tidak Membatalkan Wudhu

Air Madzi Tidak Membatalkan Wudhu

Shalat adalah tiang agama dan amalan yang pertama kali dihisab. Bila seseorang meremehkan shalat tentu dia akan mengabaikan syariat lainnya. Maka,  tidak sepantasnya meremehkan hal-hal yang menyebabkan shalat kita tidak diterima.

Di antara hal yang memengaruhi keabsahan shalat adalah wudhu kita. Masalah wudhu sepenting shalat. Wudhu tidak sah shalat juga tidak sah. Sebagian kaum muslimin beranggapan madzi tidak membatalkan wudhu, boleh shalat dalam keadaan madzi keluar. Benarkah demikian?

MENGENAI AIR MADZI

PERBEDAAN MADZI, MANI DAN WADI

Sebelum jauh membahas madzi. Sebaiknya kita bedakan tiga istilah yang sering disahalpahami. Istilah-istilah ini disarikan dari Al-Wajiz fi Fiqh Sunnah, hlm 24–25:

Pertama. madzi adalah cairan bening, tidak terlalu kental, tidak berbau, keluarnya tidak memancar, setelah keluar tidak lemas, biasanya keluar sebelum mani keluar. Cairan ini termasuk najis ringan (najis mukhaffafah).

Kedua, mani yaitu cairan yang keluar ketika syahwat mencapai puncak, memiliki bau khas, disertai pancaran, setelah keluar menimbulkan lemas. Hukum cairan ini tidak najis, menurut pendapat yang kuat, namun jika keluar bisa menyebabkan hadats besar, sehingga bisa membatalkan puasa dan wajib mandi.

Ketiga, wadi adalah cairan bening, agak kental, keluar ketika kencing.

Dari ketiga cairan di atas, yang paling mudah dibedakan adalah wadi, karena cairan ini hanya keluar ketika kencing, baik bersamaan dengan keluarnya air kencing atau setelahnya.

MADZI KELUAR KARENA SYAHWAT

Madzi bisa saja keluar dari kemaluan pria atau wanita. Rata-rata madzi keluar karena mengkhayalkan hubungan intim, berpikiran kotor, atau ketika foreplay (pemanasan) sebelum berjima’. Intinya, keluarnya tidak memancar dan tidak menyebabkan badan lemas.

Keluar madzi merupakan hal biasa bagi pria atau wanita. Bagi orang tertentu, madzi mudah keluar. Sebagaimana sahabat Ali bin Abi Thalib. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari, beliau menyuruh  Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 Dari ‘Ali beliau berkata,: “Aku adalah seorang yang sering mengeluarkan Madzi. Maka aku minta seseorang untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku segan bertanya sendiri karena putri beliau menjadi istriku. Maka orang itu bertanya, lalu Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.: “berwudhulah  dan cucilah kemaluanmu”.  (Shahih, riwayat Bukhari (no. 269), dalam Fat-hul Baari (I/230 no. 132) dan Muslim (no. 303))

SYIAH: KELUAR MADZI TIDAK PERLU BERWUDHU

Hadits di atas merupakan dalil bahwa madzi adalah najis yang harus dibersihkan sebelum shalat. Bila madzi tidak najis, Rasulullah SAW tentu tidak akan menyuruh untuk mencuci kemaluan dan berwudhu. Konsekuensinya, ketika seseorang berwudhu lalu keluar madzi, wudhunya menjadi batal.

Berbeda dengan Syiah. Mereka beranggapan bahwa madzi yang keluar tidak membatalkan wudhu. Bahkan, bila seseorang menggesek-gesekkan kemaluanya pada wanita ketika shalat, shalatnya tetap sah dan wudhu tidak batal.

Pendapat nyleneh ini menyelisihi kesepakatan para ulama’. Dalam kitab Al-Mughni (I/168) Ibnu Qudamah berkata: “Ibnul Mundzir mengatakan: Ahli ilmu sepakat bahwa keluarnya kotoran dari dubur, keluarnya air seni dari kemaluan, keluarnya madzi dan keluarnya angin dari dubur menyebabkan hadast serta membatalkan wudhu’.

PAKAIAN TERKENA MADZI

Ketika madzi keluar bisa saja mengenai celana dalam, celana luar, selimut, sarung dan lain sebagainya. Bagaimana cara menyucikan madzi? Cukup dibersihkan dengan menyiramkan air setelapak tangan ke pakaian yang terkena madzi tersebut.

Diriwayatkan dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai madzi yang mengenai pakaiannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Cukuplah bagimu mengambil air satu telapak tangan, lalu tuangkanlah ke pakaianmu (yang terkena madzi) sampai engkau lihat air tersebut mengenainya (membasahinya).” (Hadits hasan, riwayat Abu Dawud (no. 215), Tirmidzi (no. 115) dan Ibnu Majah (no. 506))

MADZI TIDAK MEMBATALKAN PUASA

Walaupun membatalkan wudhu, madzi tidak sampai membatalkan puasa. An Nawawi rahimahullah mengatakan,

“Jika seseorang mencium istrinya dan terasa nikmat, lantas keluar madzi dan bukan mani, maka puasanya tidak batal. Inilah pendapat kami, ulama Syafi’iyah, tanpa ada perselisihan sama sekali di antara kami.”[ Al-Majmu’, Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Ya’sub, 6/323]

Dalam Al Ikhtiyarot, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat,

“Puasa tidaklah batal jika keluar madzi karena sebab mencium, menyentuh atau berulang kali memandang istri. Inilah pendapat Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan sebagian ulama Hambali.”[ Al Ikhtiyarot, Ibnu Taimiyah, Asy Syamilah, hal. 96.]

baca juga: Mandi Tak Selalu Menggantikan Wudhu

 

KESIMPULAN

Sikap terbaik adalah berhati-hati. Ketika keluar madzi, pakaian segera disucikan dengan minimal air setelapak tangan kemudian berwudhu. Sebab, keluar madzi tidak membatalkan wudhu merupakan pendapat nyleneh yang tidak layak kita yakini. Wallahu ‘alam

 

# Air Madzi Tidak Membatalkan Wudhu # Air Madzi Tidak Membatalkan Wudhu # Air Madzi Tidak Membatalkan Wudhu #

 

%d bloggers like this: